Korea Selatan Terus Mengalami Defisit Perdagangan Dengan Jepang

Selama lebih dari 50 tahun terakhir, Korea Selatan tidak pernah mengalami surplus dalam perdagangannya dengan Jepang hingga terus berada di poisisi yang tidak menguntungkan untuk mengambil langkah-langkah guna menangkal hambatan dalam perdagangannya dengan Jepang.

Menurut data perdagangan yang dirilis oleh Korea International Trade Association dan Korea Customs Service pada akhir pekan lalu, defisit pperdagangan antara Korea Selatan dengan Jepang telah mencapai $604.6 milliar sejak tahun 1965 silam, disaat kedua negara menormalkan hubungan diplomatik mereka.

Pada tahap awal perdagangan mereka, defisit Korea dengan Jepang mencapai $130 juta, dan kesenjangan tersebut semakin melebar hingga ke $1.24 miliar pada tahun 1974 dan $11.87 miliar pada tahun 1994 seiring ekonomi Korea Selatan yang berkembang pesat.

Selama krisis keuangan yang melanda kawasan Asia pada kurun waktu 1998-1999, Korea Selatan secera singkat berhasil menurunkan defisit perdagangannya dengan Jepang, namun kesenjangan perdagangan semakin melebar hingga menembus ukuran $10 milliar setelah melewati tahun 2000 dan mencatat defisit sebesar $36.12 milliar di tahun 2010. Dan hingga saat ini kisaran defisit yang dialami oleh Korea Selatan sebagian besar berada di kisaran $20 milliar sejak saat itu.

Defisit perdagangan yang dialami oleh Korea Selatan terhadap Jepang, merupakan yang terbesarnya jika dibandingkan dengan negara lainnya. Pada periode tahun lalu, Korea Selatan mencatat defisit perdagangan terbesarnya dengan Jepang, dengan jumlah total mencapai sebesar $24.08 milliar, diikuti oleh Arab Saudi sebesar $22.38 milliar, Qatar sebesar $15.77 milliar dan Kuwait yang mencatat defisit sebesar $11.54 milliar, yang kesemuanya adalah negara pengekspor minyak mentah.

Menurut data yang dikeluarkan secara keseluruhan, Korea Selatan mencatat defisit dengan Jepang sebesar $8.57 milliar dari impor reaktor nuklir, boiler dan permesinan, sebesar $4.33 milliar dari impor perangkat listrik, perekam dan generator, serta sebesar $3.57 milliar dari impor instrumen optik dan instrumen presisi.

Secara khusus sebagian besar defisit yang diderita oleh Korea Selatan dengan Jepang selama periode tahun lalu berasal dari impor perangkat, sirkuit terintegrasi elektronik, mesin manufaktur serta pengolah dan pengontrol peralatan elektronik, yang sebagaian besar komponen dan bahan dengan hambatan teknologi puncak. Akan tetapi sejumlah barang-barang ekspor Korea Selatan justru mencatat surplus perdagangannya dengan Jepang, yaiut bahan bakar mineral sebesar $3.19 milliar, mutiara dan perhiasan alami sebesar $560 juta serta sektor perikanan dan ekspor kerang sebesar $370 juta.

Data terakhir menggarisbawahi bahwa Korea memiliki sedikit pilihan untuk menghadapi hambatan perdagangan balasan dari Jepang selama perselisihan perburuhan. Pada hari Kamis pekan lalu, pemerintah Jepang menanggalkan status ekspor preferensial jalur cepat dengan Korea Selatan.

Pihak Seoul mengecam langkah yang dimotivasi oleh pembalasan terhadap keputusan pengadilan di Korea Selatan baru-baru ini atas klaim kompensasi masa perang, yang menurut Jepang telah diselesaikan oleh pemerintah Jepang dalam perjanjian di tahun 1965.

Pemerintah Jepang disebutkan tengah mempertimbangkan untuk memperluas denda ke jajaran ekspor yang lebih luas, yang mana ini merupakan sebuah langkah yang dapat memiliki efek terhadap seluruh rantai pasokan manufaktur Korea Selatan, seiring negara ini yang sangat bergantung terhadap impor Jepang untuk bahan komponen dan peralatan berteknologi puncak.(WD)

Sumber: Topgrowth Futures, Investing.

Ardian Karen

Read Previous

Lapangan Kerja AS Tumbuh Kuat, Level Emas Merosot

Read Next

Produksi Industri Jerman Naik Lebih Tertinggi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *