Kondoh : Abenomics Gagal Untuk Mewujudkan Reformasi Perusahaan

Seorang mantan bankir negara yang menjadi kritikus kebijakan pro-pertumbuhan Perdana Menteri Shinzo Abe.
Akira Kondoh, mengatakan bahwa fokus Bank of Japan untuk menjaga nilai tukar Yen tetap lemah dan sekaligus memperkuat posisi saham telah membuat para eksekutif merasa puas namun justru melukai daya saing perusahaan.

Kondoh yang memimpin bank milik negara yang mendanai proyek-proyek infrastruktur besar yang disebut-sebut sebagai pilar dari langkah stimulus Abenomics, mengatakan bahwa program tersebut menemui kegagalan untuk mewujudkan reformasi dan menciptakan deregulasi perusahaan.

Abenomics yang dimulai sejak 2012 silam, merupakan program dari Shinzo Abe yang mengerahkan campuran pelonggaran keuangan radikal, menaikkan pengeluaran fiskal dan strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Para investor dan perusahaan mengapresiasi positif terhadap program Abenomics karena dianggap mendukung kenaikan posisi saham, mencerahkan sentimen publik dan sekaligus membalikkan lonjakan nilai tukar Yen yang telah melukai ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor.

Namun demikian Kondoh menilai bahwa kebijakan tersebut belum mampu menaikkan daya saing perusahaan di Jepang atau nilai pasar mereka, sehingga efek terhadap posisi saham sedikit dipertanyakan.

Sejak Shinzo Abe berkuasa nilai rata-rata indeks Nikkei telah mencatat kenaikan hampir 2.6 kali lebih tertinggi berdasarkan nilai tukar Yen, akan tetapi jika diukur berdasarkan denominasi Dollar kenaikan indeks Nikkei hanya mencatat 1.6 kali lebih tertinggi, atau kurang dari 2.2 kali dari kenaikan indeks S&P.

Sebagai salah seorang mantan eksekutif bank komersil Jepang, Kondoh tetap mempertahankan hubungan dekat dengan para anggota parlemen dari partai yang berkuasa serta eksekutif keuangan, termasuk Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda. Pada 21 Juli mendatang, program Abenomics akan diuji dalam pemilihan majelis tertinggi Jepang, seiring fokus dari partai-partai oposisi tertuju kepada apa yang mereka sebut sebagai ancaman terhadap keuangan para konstituen mereka.

Lebih lanjut Kondoh mengatakan bahwa pelonggaran keuangan agresif selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan Kuroda, telah membantu melemahkan nilai tukar Yen demi kepentingan eksportir, namun demikian pihak perusahaan kemungkinan akan mengalami tingkat produktivitas yang terendah.

trade war AS-Tiongkok dan permintaan global yang melambat telah menaikkan harapan pasar akan pemotongan interest rate Fed bulan ini, dan hal itu telah menempatkan Bank of Japan di bawah tekanan untuk memudahkan mereka terhadap peninjauan terhadap interest rate di pertemuan kebijakan di akhir bulan ini, untuk menghindari penyempitan perbedaan interest rate antara AS dan Jepang.

Jika nilai tukar Yen naik terlalu tertinggi, maka otoritas jepang dapat melakukan intervensi di pasar mata uang, dibandingkan harus melakukan pelonggaran kebijakan keuangan lebih lanjut.(WD)

Sumber: Topgrowth Futures, Reuters.