KITA : Laju Ekspor Korea Selatan Masih Terpuruk Di Kuartal Keempat

KITA : Laju Ekspor Korea Selatan Masih Terpuruk Di Kuartal Keempat

Para eksportir Korea Selatan memperkirakan tidak adanya turnaround dalam ekspor yang hingga saat ini mengalami keterpurukan selama 10 bulan terakhir. Sebuah survei yang dilakukan oleh Institute for International Trade yang bernaung di bawah Korea International Trade Association (KITA) terhadap 975 perusahaan yang berfokus pada ekspor Korea, menunjukkan bahwa indeks survei bisnis ekspor untuk periode kuartal keempat berada di angka 94.9 atau mencatat penurunan 4.6 poin dari sebelumnya di 99.5 pada periode kuartal sebelumnya.

Angka di bawah 100 menunjukkan bahwa lebih banyak perusahaan yang memperkirakan bahwa laju ekspor akan memburuk di kuartal mendatang dan sebaliknya angka di atas 100 menunjukkan bahwa perusahaan lebih optimis terhadap laju ekspor di negara tersebut.

Sektor korporasi memperkirakan bahwa laju ekspor di sebagian besar sektor, termasuk semikonduktor, produk plastik dan karet, produk mesin dan baja serta logam non ferrous akan mengalami laju yang melambat di tengah meningkatnya perselisihan dagang antara AS dengan Cina serta kebijakan ekspor Jepang yang membatasi pengiriman produk Korea Selatan, di tengah perlambatan ekonomi di negara-negara besar, termasuk negara-negara ekspor seperti Cina dan Vietnam.

Indeks untuk produk semikonduktor sebagai item andalan dari Korea Selatan, turun menjadi 88.2 untuk periode Oktober hingga Desember setelah sebelumnya mengalami pemulihan di atas angka 100 pada kuartal sebelumnya. Di tengah jatuhnya harga satuan dari produk semikonduktor serta keterlambatan pembelian oleh perusahaan teknologi informasi global, pemulihan terhadap laju ekspor produk tersebut nampaknya masih berada dalam kondisi yang suram.

Secara keseluruhan sentimen untuk industri komponen otomotif dan produk mobil diperkirakan akan membaik di kuartal keempat berkat peningkatan yang terjadi di laju pengiriman ke pasar di negara tujuan utama. Sementara ekspor untuk barang-barang lifestyle, diperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan, terutama untuk produk kosmetik dari Korea Selatan di pasar Cina.

Akan tetapi indeks untuk peraturan impor serta konflik perdagangan mencapai angka 69.2, indeks untuk ekonomi negara-negara eksportir berada di angka 89.1 dan indeks untuk biaya ekspor di angka 94.7, akibat dari perselisihan perdagangan yang tengah berlangsung antara dua negara ekonomi terbesar di dunia yang kemungkinan masih akan berlanjut.

Sementara itu kondisi ekonomi di Cina dan negara-negara di Eropa mengalami kelesuan dan ekonomi AS tengah menghadapi kekhawatiran akan terjadinya penurunan sehingga kesemuanya meningkatkan risiko eksternal.

Dalam survei disebutkan bahwa sebanyak 14.5% responden mengatakan bahwa perusahaan ekspor peduli terhadap biaya bahan baku di kuartal keempat, sementara 13.7% menilai para eksportir peduli terhadap permintaan pembeli terhadap penurunan harga, serta 12.7% menganggap bahwa ekonomi di negara-negara ekspor tengah mengalami kelesuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini