• 31 Maret 2020

Kinerja Greenback Tekan Mata Uang Emerging Market

Kinerja mata uang US Dollar menimbulkan masalah baru bagi ekonomi di negara berkembang, di tengah hantaman pandemi global virus corona, menyebabkan keruntuhan nilai tukar emerging market currencies dan jatuhnya laju permintaan.

Investor banyak mengalirkan arus dana keluar dari negara berkembang dan beralih ke safe haven greenback, menyusul dua kali pemotongan suku bunga darurat bulan ini oleh Federal Reserve tidak mampu mengurangi daya tarik US Dollar.

Seiring lebih terintegrasinya US Dollar ke dalam ekonomi dunia, terjadi tekanan tambahan bagi bisnis dan pemerintah di saat persiapan menghadapi lonjakan biaya hutang berdenominasi Dollar.

Bank sentral di negara berkembang menjadi dilema karena ketika mereka memangkas suku bunga untuk mendukung pertumbuhan, namun di satu sisi berisiko mendestabilisasi mata uang mereka jika terlalu banyak memangkas suku bunga.

Bank sentral Turki menjadi bank sentral terbaru yang menerapkan kebijakan pemangkasan suku bunga darurat, sementara Afrika Selatan, Indonesia dan Brasil diperkirakan akan mengurangi suku bunga utama mereka dalam beberapa hari mendatang.

Sebuah hasil penelitian terbaru dari Bank for International Settlements menunjukkan bahwa sejak krisis keuangan global, apresiasi Dollar yang tidak terduga telah menimbulkan tekanan bagi pertumbuhan perdagangan dunia.

Dengan demikian ini akan menjadi pengetatan dalam kondisi keuangan karena pinjaman dalam bentuk Dollar di emerging market tengah mengalami perlambatan.

Menurut Institute of International Finance, arus keluar dari pasar negara berkembang sudah mencapai rekornya di $30 milliar dalam 45 hari di tengah wabah virus corona. Imbas dari kekhawatiran terhadap pandemi virus corona, sangat dirasakan di kawasan Asia, dimana kejatuhan pasar telah membawa kecemasan berulangnya krisis keuangan Asia dua dekade lalu.

Rupiah menjadi mata uang berkinerja terburuk di Asia untuk tahun ini menyusul penurunan sekitar 8.9%, sementara Won Korea Selatan diperdagangkan dekat level terendahnya sejak 2010, dan mata uang Rupee India anjlok hingga ke rekor terendahnya pada pekan lalu.

Khoon Goh yang menjabat sebagai kepala penelitian Asia di Australia & New Zealand Banking Group Ltd yang berbasis di Singapura, mencermati bahwa pasar negara berkembang di Asia mencoba menerapkan penurunan suku bunga secara lebih hati-hati di saat yang bersamaan harus menjalankan manajemen mata uang.

Goh menambahkan bahwa emerging market akan terus memanfaatkan cadangan mata uang asing mereka untuk memperlancar volatilitas mata uang, tanpa harus berusaha membendung tren atau mempertahankan level tertentu sebagai acuan dan di lingkungan yang menggambarkan lemahnya permintaan eksternal, maka akan ada sejumlah kelemahan mata uang di samping kebijakan penurunan suku bunga sebagai cara terbaik untuk mencoba dan meringankan kondisi keuangan secara keseluruhan.

Bank Indonesia dan Filipina diperkirakan akan memangkas suku bunga pada hari Kamis besok.(