Indeks Harga Produsen Jasa Jepang Naik

0
Indeks Harga Produsen Jasa Jepang Naik

Level harga yang dibebankan bagi para perusahaan sektor jasa Jepang satu sama lain mencatat kenaikan dalam bulan kelima secara berturut-turut, menjadi pertanda bahwa ekonomi Jepang mampu bertahan di tengah hantaman kebangkitan kasus Covid-19 serta kebijakan pembatasan untuk meredam pandemi.

Namun demikian laju kenaikan di tingkat tahunan justru mengalami perlambatan selama dua bulan terakhir dan meredup dibandingkan dengan lonjakan inflasi grosir, yang menggarisbawahi penderitaan sektor jasa Jepang dari pandemi.

Bank of Japan merilis data indeks harga produsen jasa yang mencatat kenaikan 1.1% di bulan Juli dari periode yang sama di tahun sebelumnya, setelah direvisi naik ke 1.3% pada bulan Juni sebelumnya.

Kepala ekonom di Itochu Economic Research Institute, Atsushi Takeda mengatakan bahwa pada dasarnya perilaku penetapan harga perusahaan Jepang berbeda dibandingkan di negara lainnya, yang mana pihak perusahaan telah menanamkan gagasan bahwa jika mereka menaikkan harga maka pelanggan akan pergi.

Adapun kenaikan harga ini didorong oleh kenaikan biaya transportasi sebesar 1.4%, serta biaya pengiriman internasional yang mengalami lonjakan hingga 24.6%, sehingga hal ini menyoroti tekanan biaya yang tengah dihadapi oleh pihak perusahaan di tengah kuatnya laju permintaan global.

Disebutkan bahwa biaya layanan hotel naik 10.8%, yang menandai kenaikan terbesar di tingkat tahunan dalam hampir enam tahun terakhir, sehingga hal ini mencerminkan dorongan permintaan dari perhelatan Olimpiade Tokyo yang berlangsung dari 23 Juli hingga8 Agustus lalu.

Sementara itu Shigeru Shimizu selaku kepala divisi statistik harga di Bank of Japan, mengatakan bahwa peningkatan kasus infeksi virus yang terjadi baru-baru ini akan memberikan beban bagi harga produsen jasa, meskipun pihaknya dapat melihat bahwa permintaan sektor jasa mengalami peningkatan jika terjadi kemajuan dalam program vaksinasi yang akan membantu untuk membuka kembali aktifitas perekonomian Jepang.

Selain itu laju ekspor yang kuat telah membantu ekonomi Jepang untuk bangkit dari kelesuan di tahun lalu, walaupun pembatasan darurat terus membebani konsumsi serta menghancurkan harapan para pembuat kebijakan terhadap potensi rebound pertumbuhan yang tajam di periode Juli-September.

Kenaikan harga komoditas juga menjadi pemicu timbulnya tekanan bagi margin perusahaan, sehingga banyak diantaranya tetap bersikap hati-hati dalam menerapkan beban biaya yang lebih tinggi kepada para pelanggan menyusul tingkat pengeluaran sektor rumah tangga yang masih lemah.

Dilaporkan pula bahwa harga grosir di Jepang mengalami lonjakan hingga 5.6% di bulan Juli dari tahun sebelumnya, yang menandai kenaikan tahunan tercepatnya dalam 13 tahun terakhir, akan tetapi harga konsumen inti Jepang justru mengalami penurunan 0.2% di bulan Juli sehingga mencatat penurunan dalam 12 bulan berturut-turut akibat lemahnya permintaan domestik.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here