Harga Produsen China Tumbuh Lebih Cepat

Harga Produsen Cina Tumbuh Lebih Cepat
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Harga produsen China di bulan Februari mencatat kenaikan di laju tercepatnya sejak November 2018, yang meningkatkan ekspektasi bagi pertumbuhan ekonomi China yang kuat di tahun ini, meskipun berada di tengah kondisi kesulitan untuk memenuhi pesanan ekspor.

Secara keseluruhan laju inflasi bulanan menunjukkan bahwa indeks harga konsumen tumbuhn sebesar 0.6%, lebih rendah dari pertumbuhan 1% di bulan Januari, namun masih lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan 0.4% dalam jajak pendapat dari Investing.com sebelumnya.

Sedangkan untuk tingkat tahunan laju CPI mengalami kontraksi 0.2%, namun masih lebih baik dari perkiraan kontraksi 0.4$ serta kontraksi 0.3% yang tercatat di bulan Januari, sementara itu indeks harga produsen tumbuh 1.7% di tingkat tahunan pada bulan Februari, lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan 1.5% dan jauh diatas pertumbuhan 0.3% pada bulan Januari.

Basis data yang berada di level rendah pada tahun 2020 lalu menjadi salah satu faktor dalam pembacaan yang lebih baik dari perkiraan, namun demikian masih ada kekhawatoran investor mengenai lonjakan inflasi secara global yang terus meningkat.

Sejumlah data perdagangan yang dirilis pada pekan sebelumnya, menyebutkan bahwa laju ekspor naik 60.6% di tingkat tahunan pada bulan Februari, di saat Kongres Rakyat Nasional China yang menetapkan target pertumbuhan ekonomi secara moderat di atas 6% untuk tahun ini, yang berlawanan dengan ekspektasi investor yang memperkirakan ekspansi lebih dari 8% di tahun 2021.

Secara global negara ekonomi terbesar kedua tersebut, terus menghadapi tantangan dalam proses pemulihan, karena situasi Covid-19 yang tetap parah secara keseluruhan di dunia, yang mana hal ini terus mengikis laju permintaan.

Seorang ekonom senior di Capital Economics China, Julian Evans-Pritchard dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa pihaknya berpikir jika deflasi harga konsumen yan terjadi baru-baru ini tidak akan berlanjut, dan pergeseran efek dasar harga daging babi dinilai akan mendorong inflasi di sektor pangan, serta pengetatan pasar tenaga kerja akan mendorong inflasi inti dan inflasi energi untuk pulih berkat kenaikan harga minyak.

Lebih lanjut Pritchard juga menyampaikan bahwa mengingat pejabat berwenang China saat ini telah mengisyaratkan kemiringan sikap hawkish dalam beberapa pekan terakhir, maka dirinya berpikir bahwa People’s Bank of China akan memperketat kebijakan moneternya di tahun ini.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Artikel Forex Lainnya

Gulir ke Atas