Harga Minyak Turun Seiring Data Stok Minyak AS Dari API

Harga Minyak Turun Seiring Data Stok Minyak AS Dari API

Harga minyak mengalami penurunan di sesi perdagangan hari ini setelah sebelumnya mencatat kenaikan lebih dari 1% di sesi perdagangan sebelumnya karena data industri AS yang menunjukkan peningkatan stok minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan.

Namun demikian sejumlah kalangan menilai bahwa kemungkinan adanya penurunan produksi yang lebih dalam dari OPEC dan sekutunya berpotensi mencegah penurunan harga minyak lebih lanjut. Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman bulan Desember, turun 32 sen atau sekitar 0.59%, sedangkan kontrak pengiriman bulan November telah berakhir pada Selasa kemarin.

Data stok minyak mentah AS yang dirilis oleh American Petroleum Institute (API), dilaporkan naik sebesar 4.5 juta barrel menjadi 437 juta barrel di pekan yang berakhir pada 18 Oktober lalu, angka ini lebih tinggi dari ekspektasi kenaikan sebesar 2.2 juta barrel dari para analis.

Sedangkan data inventaris minyak mentah AS dari Energy Information Administration (EIA), baru akan dirilis pada malam hari nanti waktu AS. Saat ini OPEC tengah mempertimbangkan apakah akan memperdalam penurunan produksi minyak mereka, di tengah kekhawatiran terhadap laju pertumbuhan permintaan yang lemah di tahun depan.

Stephen Innes selaku ahli strategi pasar di AxiTrader, mengatakan bahwa reli harga minyak yang diinduksi oleh OPEC telah terhenti setelah kenaikan besar-besaran terhadap konsensus inventaris dari American Petroleum Institute.

Lebih lanjut Innes menambahkan bahwa kebijakan pemangkasan oleh OPEC lebih lanjut tidak mungkin untuk mengatasi semuanya, namun berdasarkan angka yang tercatat saat ini, besarnya kelebihan pasokan yang diharapkan pada tahun 2020 mendatang dianggap berada dalam kemampuan pengelolaan dari OPEC. OPEC dan produsen minyak lainnya termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +, telah berjanji untuk memotong produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) hingga Maret 2020.

Negara-negara anggota OPEC dan negara produsen non-OPEC lainnya dijadwalkan untuk melakukan pertemuan di 5-6 Desember mendatang.

Dalam sebuah catatannya Goldman Sachs mengatakan bahwa ancaman melemahnya laju permintaan, sebagai cerminan tanda-tanda bahwa aktivitas shale oil mengalami perlambatan serta ditambah sejumlah proyek-proyek non-OPEC akan menjadi bahan pertimbangan utama bagi OPEC untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan mereka pada pertemuan di bulan Desember mendatang.

Sementara itu meredanya ketegangan perdagangan antara AS dengan Cina, sebagai negara konsumen minyak terbesar dunia, turut membantu meredam sentimen secara keseluruhan terhadap pergerakan harga minyak.

Goldman Sachs juga menyampaikan bahwa dengan tantangan hedging dari produsen AS yang kuat serta tingkat pengiriman yang memudar, pihaknya memperkirakan minyak mentah jenis Brent yang lebih luas dan harga yang lebih tinggi dalam beberapa pekan mendatang, maka perkiraan di akhir tahun harga minyak akan berada di $62 per barrel.(WD)