• 21 Januari 2020

Harga Minyak Turun Di Tengah Berlanjutnya Pembatasan Produksi OPEC+

Harga minyak hingga saat ini masih berada di kisaran yang lebih rendah sejak awal perdagangan waktu Asia, setelah adanya kabar yang mengatakan bahwa OPEC sepakat untuk meningkatkan pembatasan produksi minyak di awal 2020 mendatang, namun gagal menjanjikan langkah lebih lanjut setelah Maret mendatang.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate sempat mencatat penurunan hingga 0.2% di sesi perdagangan Asia, namun hingga saat ini harga minyak kembali rebound dan menguat 0.09% sesaat setelah memasuki sesi perdagangan waktu Eropa.

Organisasi OPEC beserta sekutunya, termasuk Rusia yang tergabung dalam OPEC+, telah sepakat untuk menerapkan pengurangan produksi minyak mereka lebih banyak, guna mencegah kelebihan pasokan minyak di awal tahun depan, seiring pertumbuhan ekonomi yang melambat di tengah perang perdagangan AS-Cina.

Dalam perjanjian terbaru saat pertemuan OPEC di Wina Austria, mereka sepakat menambah jumlah produksi yang dipangkas hingga sebanyak 500 ribu barrel per hari, melalui kebijakan kepatuhan yang lebih ketat dan sejumlah penyesuaian.

Sebelumnya OPEC+ telah bersepakat untuk memangkas hingga sebanyak 1.2 juta barrel per hari dan jumlah tersebut mewakili sekitar 1.7% dari produksi minyak global.

Salah seorang analis pasar senior di OANDA, Edward Moya mengatakan bahwa keputusan ini tampaknya lebih merupakan langkah bagi internal organisasi tersebut, yang akan mempersempit kesenjangan antara target mereka saat ini serta tingkat kepatuhan yang telah terlihat dari aliansi tersebut hingga kini.

Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan bahwa panelis setingkat menteri yang mewakili OPEC dan negara produsen non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia, telah merekomendasikan pengurangan tersebut. Setiap kenaikan harga minyak yang terjadi dari penurunan output OPEC+, kemungkinan akan menguntungkan produsen AS yang tidak ikut serta dalam perjanjian pembatasan pasokan minyak.

Dalam sebuah catatannya, Rystad Energy mengatakan bahwa pasokan shale oil Amerika Utara akan terus tumbuh, bahkan di tengah kondisi harga minyak yang lebih rendah.

Selain itu harga minyak yang lebih tinggi dapat memberikan dukungan saat penawaran umum perdana dari perusahaan minyak milik kerajaan Arab, Saudi Aramco yang memberi harga sahamnya di atas kisaran.(