Harga Minyak Terkoreksi Akibat Aksi Ambil Untung

Harga Minyak Terkoreksi Akibat Aksi Ambil Untung

Kenaikan harga minyak di sesi perdagangan Jumat lalu, sedikit mereda di sesi perdagangan hari ini, seiring para pedagang mengambil aksi ambil untung menjelang data ekonomi di sektor manufaktur Eropa, di tengah harapan resolusi terhadap perselisihan perdagangan AS-Cina.

Harga minyak mentah berjangka melonjak hingga sebesar $2 per barrel di perdagangan Jumat kemarin, setelah AS dan Cina mengatakan bahwa mereka telah membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan, menyusul pejabat AS mengatakan bahwa kesepakatan tersebut berpotensi ditandatangani di bulan ini.

Minyak mentah berjangka Brent untuk Januari LCOc1 turun 31 sen menjadi $ 61,38 per barel, sementara minyak mentah berjangka Desember AS CLc1 berada di $ 55,91 per barel, turun 29 sen.

Jeffrey Halley selaku analis pasar senior untuk Asia Pasifik di OANDA, menulis dalam sebuah catatan, mengatakan bahwa reli harga minyak di perdagangan Jumat lalu, terjadi akibat dukungan dari kombinasi data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan serta optimisme pasar terhadap kesepakatan perdagangan global.

Pada hari ini Uni Eropa akan mengumumkan data manufaktur pada hari ini, serta AS yang akan merilis data pesanan pabrik yang ditunggu oleh para pelaku pasar.

Sementara itu ahli strategi pasar Asia Pasifik di AxiTrader, Stephen Innes mengatakan bahwa dirinya menilai bahwa pembicaraan perdagangan terus meningkatkan sentimen, namun pedagang minyak Asia menginginkan data yang lebih meyakinkan dari sisi makro sebelum ada dukungan terhadap kenaikan harga minyak mentah global.

Data penurunan aktifitas rig di AS selama dua pekan beruntun, serta laporan pekerjaan AS yang lebih optimis mampu memberikan dukungan terhadap harga minyak di penutupan perdagangan pekan lalu.

Selain itu adanya laporan penutupan pipa Keystone yang mengirim minyak mentah Kanada ke AS, yang menurut perusahaan pemilik jaringan pipa tersebut, TC Energy Corp mengatakan bahwa penutupan ini terkait adanya pekerjaan pemasangan pipa yang tengah berlangsung di jaringan pipa pengiriman di Dakota Utara.

Sedangkan kebijakan pengurangan produksi oleh OPEC+ sejak Januari lalu sebesar 1.2 juta barrel per hari, dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga. Akan tetapi sebuah data dari Kementerian Energi menunjukkan bahwa Rusia telah kehilangan target penurunan produksi di bulan Oktober. Output produksi minyak dari negara produsen anggota OPEC, dilaporkan pulih di bulan Oktober dari level terendahnya dalam delapan tahun terakhir,

Setelah mengalami rebound cepat di tingkat produksi minyak Arab Saudi setelah adanya serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi di bulan September lalu, guna mengimbangi kerugian yang diderita Ekuador dan kebijakan pemangkasan output produksi dari OPEC+.

Gelombang protes di pelabuhan utama Umm Qasr, Irak pada akhir pekan kemarin, sepertinya tidak mempengaruhi ekspor minyak dari negara produsen OPEC terbesar kedua tersebut.

Sebuah berita terakhir mengatakan bahwa perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco pada akhirnya memulai penawaran umum perdanan (IPO) pada hari Minggu kemarin, namun hanya menyebutkan sedikit rincian mengenai jumlah saham yang akan dijual, harga atau tanggal peluncuran IPO mereka.(

Ardian Karen

Read Previous

Dolar Bernasib Sedikit Lebih Baik Pada Safe Haven Yen

Read Next

Kepercayaan Konsumen Swiss Memburuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *