Harga Minyak Stabil Setelah Mencatat Kenaikan Kuat Di Pekan Lalu

Harga Minyak Stabil Setelah Mencatat Kenaikan Kuat Di Pekan Lalu

Harga minyak mentah stabil di sesi perdagangan awal pekan ini, sekaligus mampu mempertahankan kenaikan kuat pada pekan lalu, setelah Rusia menegaskan komitmennya terhadap kesepakatan dengan negara produsen OPEC guna menjaga laju produksi tetap terkendali sekaligus memberikan dukungan terhadap harga.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate mencatat penurunan 4 sen, setelah mencatat kenaikan lebih dari 5% di perdagangan pekan lalu, yang juga tercatat sebagai kenaikan mingguan terbesarnya sejak 20 September. Sebelumnya pada Jumat lalu,

Kementerian Energi Rusia mengatakan bahwa pihaknya telah melanjutkan kerja sama dengan Arab Saudi dan negara anggota OPEC lainnya, beserta dengan negara produsen minyak non-OPEC untuk meningkatkan stabilitas di pasar minyak global.

Pernyataan tersebut hanya berselang sehari setelah Igor Sechin selaku CEO Rosneft, produsen minyak asal Rusia, mengatakan bahwa serangan terhadap aset minyak Arab Saudi pada September lalu, telah menimbulkan keraguan terhadap kapasitas Arab Saudi sebagai negara pemasok minyak utama dunia, yang mana serangan tersebut telah menutup sekitar setengah dari produksi minyak dari negara kerajaan tersebut.

Greg McKenna selaku ahli strategi di McKenna Macro mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak asal Rusia tengah sibuk berupaya untuk mengambil bagian dari pangsa pasar milik Arab Saudi selama beberapa tahun belakangan, namun mereka terhambat oleh birokrasi dan ketentuan yang diterapkan oleh pemerintah di Moskow.

Kelompok aliansi OPEC+ telah mengimplementasikan kesepakatan mereka sejak Januari lalu, sebagai bagian dari upaya untuk memangkas laju produksi sebesar 1.2 juta barrel per hari guna memberikan dukungan terhadap pasar.

Pakta kebijakan pemangkasan ini berlaku hingga Maret 2020 mendatang, dimana para negara produsen akan melaksanakan pertemuannya di pekan depan.

Stabilnya harga minyak juga mendapatkan dukungan dari pernyataan AS dan Cina yang mengatakan bahwa keduanya hampir merampungkan sejumlah poin penting yang termasuk di dalam perjanjian perdagangan keduanya melalui diskusi tingkat tinggi.

Sebuah saran dari Presiden Donald Trump yang mengatakan bahwa Exxon Mobil atau perusahaan minyak AS lainnya dapat mengoperasikan ladang minyak di Suriah, telah menimbulkan sejumlah kecaman dari para pakar hukum dan energi.(

Ardian Karen

Read Previous

Dollar Di Level Tertingginya Terhadap Yen

Read Next

Harga Emas Naik, Jaga Tren Jangka Pendeknya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *