Harga Minyak Mentah Dunia Mengalami Sedikit Rebound

Harga minyak mentah berjangka sedikit rebound di sesi perdagangan waktu Eropa pada hari ini, setelah sebelumnya mengalami penurunan besar di sesi perdagangan sebelumnya, namun minyak mentah jenis Brent tetap berada di dekat posisi terendahnya dalam tujuh bulan terakhir di kisaran $60 per barrel akibat dari meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dengan Cina.

Harga minyak mentah jenis Brent telah kehilangan lebih dari 9% dalam lebih dari sepekan terakhir, setelah Presiden AS Donald Trump bersumpah untuk memberlakukan tarif baru terhadap impor Cina dan sebaliknya Cina akan membuat langkah lebih lanjut terhadap produk pertanian AS.

Selain itu tanggapan pihak AS yang menyebut bahwa Cina sebagai manipulator mata uang, menyusul penurunan nilai tukar Yuan, semakin memberikan tekanan terhadap prospek laju permintaan terhadap komoditas minyak.

Sementara itu minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate justru mengalami rebound dan mencatat kenaikan 38 sen menjadi $55.07 per barrel.

Para pedagang di pasar komoditas minyak merasa khawatir terhadap perselisihan antara dua negara konsumen minyak terbesar dunia, yang berpotensi mengurangi laju permintaan terhadap minyak, sehingga membantu mendorong terjadinya aksi short covering di pasar minyak mentah pada hari ini. Aksi short covering ini terjadi di tengah pasar ekuitas global yang mencapai level terendahnya dalam dua bulan terakhir.

Olivier Jakob selaku analis di Petromatrix menilai bahwa sulit bagi harga minyak mentah berjangka untuk bertahan di jalur kenaikan, saat pasar ekuitas bergerak ke wilayah negatif.

Sementara itu Iran telah mengeluarkan ancaman untuk memblokir semua ekspor energi yang keluar dari Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengiriman seperlima dari seluruh lalu lintas minyak global, jika pihaknya tetap tidak bisa menjual minyaknya seperti yang dijanjikan oleh pihak barat dalam perjanjian nuklir di tahun 2015 sebagai imbalan untuk Iran jika mengekang program pengayaan uranium.

Harga minyak mentah berjangka berpotensi menemukan dukungan di sesi perdagangan hari ini, seiring jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah jatuh selama delapan pekan berturut-turut. Malam ini lembaga American Petroleum Institute akan merilis data inventaris mingguannya, yang tentunya akan memberikan pengaruh bagi pergerakan harga minyak mentah dunia.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here