Harga Minyak Kembali Turun Terkait Pernyataan Presiden Trump

Harga Minyak Kembali Turun Terkait Pernyataan Presiden Trump

Pergerakan harga minyak mentah berjangka di sesi perdagangan hari ini mengalami penurunan dalam dua hari berturut-turut di tengah kekhawatiran pasar terhadap melemahnya laju permintaan terhadap bahan bakar setelah Presiden AS Donalad Trump kembali memunculkan pesimisme pasar terhadap pembicaraan perdagangan AS-Cina yang berdampak kepada laju pertumbuhan ekonomi global.

Jeffrey Halley selaku analis pasar senior untuk Asia Pasifik di OANDA, mengatakan bahwa apa yang saat ini terjadi terhadap pergerakan minyak mentah akibat dari komentar Donald Trump mengenai perdagangan mereka dengan Cina, yang mana Trump dinilai masih mempertahankan sikap agresifnya.

Dalam pidatonya di United National General Assembly, Presiden Trump melontarkan kritiknya terhadap praktik perdagangan Cina, seraya menambahkan bahwa dirinya tidak akan menerima kesepakatan yang buruk dalam negosiasi perdagangan antar kedua negara. Dampak yang terjadi terhadap harga minyak mentah global dikarenakan Cina merupakan importir minyak terbesar di dunia sekaligus pengguna minyak mentah terbesar kedua, sementara AS merupakan negara konsumen minyak terbesar dunia.

Dalam kesempatan tersebut Trump juga mengatakan bahwa dirinya melihat adanya peluang perdamaian dengan Iran, bahkan hal ini terlontar saat Trump mengecam Iran yang disebut sebagai negara yang “haus darah”, sehingga hal ini semakin melemahkan premi risiko lainnya yang termasuk dalam faktor penggerak harga minyak.

Pada pekan lalu harga minyak menguat menyusul serangan yang melumpuhkan instalasi minyak Arab Saudi sehingga mengganggu pasokan dari negara eksportir minyak utama dunia tersebut. Guna memenuhi kewajiban pasokan ke pasar minyak Saudi di luar negeri, Aramco selaku perusahaan minyak milik pemerintah Arab Saudi telah membeli minyak mentah dari negara produsen lainnya di kawasan Timur Tengah.

Salah seorang ekonom di OCBC, Howie Lee mengatakan bahwa saat ini pasar tengah terfokus terhadap laju permintaan minyak dunia, namun dirinya bersikap lebih hati-hati dengan apa yang saat ini terjadi di Timur Tengah. Lebih lanjut Lee mengatakan bahwa stok minyak Arab Saudi dapat habis dalam dua bulan kedepan, sehingga hal ini dapat mendorong para negara konsumen untuk mencari pasokan minyak di pasar spot yang mana hal ini akan mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.

Selain itu harga minyak mentah juga masih terbebani oleh kenaikan persediaan minyak mentah AS yang tidak terduga di pekan lalu. Dilaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 1.4 juta barrel di pekan lalu, jauh lebih besar dibandingkan perkiraan penurunan hingga 200 ribu barrel oleh para analis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini