Greenback Terkoreksi Dari Level Tertingginya

Greenback Terkoreksi Dari Level Tertingginya
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Pergerakan mata uang US Dollar sedikit mereda dari level tertingginya dalam tiga pekan terakhir, namun nampaknya bersiap untuk mencatat kenaikan mingguan secara moderat, menyusul ketegangan antara AS-Cina serta kekhawatiran terhadap gelombang kedua infeksi Covid-19 yang menghantam sentimen investor.

Sementara itu di tengah harapan yang tidak pasti terhadap pemulihan global yang ebih cepat, mata uang Aussie yang sensitif terhadap sektor perdagangan, tengah bersiap untuk dengan mencatat penurunan mingguan pertama sejak awal April lalu.

Mata uang Aussie dan Kiwi tengah berjuang untuk mendapatkan traksi di bulan ini, seiring para investor dan pihak berwenang tengah menimbang optimisme untuk mengurangi langkah-langkah pembatasan dari risiko kenaikan jumlah infeksi serta skala kerusakan ekonomi yang telah ditimbulkan.

Rodrigo Catril selaku analis valuta asing senior di National Australia Bank, mengatakan bahwa kondisi pasar saat ini sedang dalam sikap wait & see, menunggu untuk mencermati secara khusus apakah ketegangan antara AS dan Cina akan benar-benar meningkat.

Sementara itu dalam sebuah catatannya, analis ANZ menuliskan bahwa di tengah selera risiko yang mengalami peningkatan serta berkurangnya momentum harga, maka perdagangan mata uang kemungkinan akan masuk dalam fase volatile serta adanya prospek bearish bagi mata uang berisiko di bulan depan.

Selain itu juga pasar global saat ini beralih kepada faktor-faktor yang lebih lambat yang akan menyebabkan ekonomi global keluar dari hibernasi atau justru melihat pasar risiko jatuh dari ketinggian.

Mata uang safe haven Yen Jepang terpantau masih tetap stabil terhadap Dollar, namun tengah ditekan seiring pejabat Federal Reserve AS yang menurunkan prospek ke tingkat negatifnya sehingga memberikan sedikit dukungan bagi Greenback.

Kebijakan pembukaan kembali ekonomi global secara bertahap tengah berlangsung seiring kesadaran bahwa pandemi telah merusak rantai pasokan, pasar tenaga kerja serta permintaan global.

Data pada hari ini menunjukkan output industri China di bulan April dirilis lebih tinggi dari ekspektasi namun konsumsi masih terjebak dalam kelesuan.

Prospek ekonomi jangka pendek AS yang sudah suram telah semakin gelap dalam jajak pendapat Reuters terbaru para ekonom, dengan perkiraan untuk kontraksi kuartal kedua tahunan sebesar 35%.

Dalam sebuah wawancara dengan siaran Fox Business Network pada hari Kamis, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia kecewa dengan kegagalan China untuk mengatasi virus corona dan bahkan mengatakan bahwa dirinya dapat memutuskan hubungan diplomatik dengan Cina.(

Gulir ke Atas