Greenback Berupaya Untuk Pulih Dari Penurunannya Semalam

Hingga pembukaan perdagangan waktu Eropa, mata uang US Dollar mencatat sedikit pemulihan pasca turun tajam akibat komentar dovish dari pembuat kebijakan Federal Reserve yang mendukung ekspektasi penurunan suku bunga secara lebih agresif di bulan ini.

Pada konferensi bank sentral di hari Kamis waktu AS, Presiden Fed New York John Williams berpendapat untuk langkah-langkah pencegahan untuk menghindari inflasi yang terlalu rendah dan suku bunga. Hal inilah yang memberikan tekanan terhadap Dollar sebelum akhirnya mengalami sedikit rebound setelah perwakilan dari Federal Reserve of New York mengatakan bahwa komentar Williams tersebut hanya bersifat akedemis dan bukan mengarah kepada kebijakan moneter secara langsung.

Analis di MUFG mengatakan bahwa ekspektasi penurunan suku bunga The Fed hanya akan menghasilkan pelemahan mata uang US Dollar hingga sejauh ini, yang akhir-akhir pergerakannya menjadi lebih jelas terhadap sejumlah aset dengan imbal hasil lebih tinggi.

Kelemahan Dollar serta ekspektasi dari perubahan dovish dalam siklus suku bunga telah memberikandukungan bagi sebagian besar pergerakan mata uang di negara emerging market.

Bart Wakabayashi, perwakilan State Street Bank di Jepang, mengatakan bahwa jika Federal Reserve memangkas suku bunganya maka hal tersebut berpotensi mendorong investasi baru dalam nilai tukar dari mata uang di negara berkembang serta aset berisiko lainnya.

Sementara itu mata uang Euro melemah di sesi awal perdagangan waktu Eropa, namun masih tetap stabil di kisaran pergerakan mingguannya, menyusul para trader yang tengah menunggu pertemuan European Central Bank pada pekan depan.

Sedangkan mata uang Poundsterling kembali mencatat penurunan hingga 0.3%, dan gagal melakukan pemulihan di pasar setelah anggota parlemen Inggris lebih memilih rencana untuk mempersulit perdana menteri yang baru nanti jika ingin menerapkan kebijakan brexit no-deal.

Dengan demikian pasar melihat adanya upaya dari pemerintah Inggris untuk berupaya mencari celah kesepakatan dengan pihak Uni Eropa sebelum jatuh tempo waktu keluarnya Inggris dari Uni Eropa.(WD)

Read Previous

Merkel: Pelemahan Ekonomi Memberi Alasan Bagi Pemerintah Mendorong Stimulus

Read Next

Inflasi Inti Jepang Terendah Dalam Dua Tahun, Memaksa BoJ Untuk Segera Melakukan Stimnulus

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *