GDP China Tumbuh Lebih Tinggi Dari Ekspektasi

GDP Cina Tumbuh Lebih Tinggi Dari Ekspektasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

National Bureau of Statistics of China melaporkan bahwa GDP China tumbuh sebesar 3.2% di kuartal kedua tahun ini dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mencatat rebound dari kuartal sebelumnya dan sekaligus mengalahkan ekspektasi analis sebelumnya.

Hal ini diakibatkan oleh meredanya kebijakan lockdown yang sebelumnya diberlakukan serta didukung oleh langkah-langkah stimulus untuk menopang ekonominya.

Sementara itu ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan laju Gross Domestic Bruto China akan tumbuh secara moderat sebesar 2.5% di periode April hingga Juni.

Besaran GDP China di kuartal pertama sebelumnya mengalami kontraksi hingga sebesar 6.8% dari tahun sebelumnya, akibat dari hantaman dari pandemi virus terhadap ekonominya, yang mana ini menjadi penurunan GDP China untuk pertama kalinya sejak 1992, saat pencatatan secara resmi dilakukan.

Angka-angka resmi PDB China dilacak sebagai indikator kesehatan ekonomi terbesar kedua di dunia, tetapi banyak pakar luar telah lama menyatakan skeptis tentang kebenaran laporan China.

Dalam siaran persnya pada pagi hari tadi waktu setempat, Biro Statistik Nasional China mengatakan bahwa secara umum ekonomi China telah mampu mengatasi dampak buruk dari epidemi di babak pertama secara bertahap dan sekaligus menunjukkan momentum pertumbuhan restoratif serta laju pemulihan bertahap sehingga mampu mewujudkan ketahanan pembangunan dan vitalitas ekonomi secara lebih lanjut.

Sebelumnya pemerintahan Beijing telah memperkenalkan langkah-langkah untuk meningkatkan perekonomian termasuk pengeluaran fiskal dan pemotongan suku bunga kredit dan persyaratan cadangan bank.

Sejumlah data ekonomi terbaru dari China telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, seperti data perdagangan di bulan Juni yang menunjukkan bahwa laju ekspor impor China dalam denominasi Dollar dirilis naik serta data aktifitas manufaktur di bulan Juni yang juga meluas dari bulan Mei sebelumnya.

Bo Zhuang selaku kepala ekonom China di TS Lombard mengatakan bahwa dirinya berharap laju pemulihan GDP China akan berkelanjutan, setidaknya dalam dua kuartal berikutnya, mengingat bahwa aktifitas ekonomi domestik tampak dalam kondisi yang baik dengan pertumbuhan infrastruktur dan perjalanan lintas provinsi yang kembali dibuka.

Namun demikian Biro statistik China mengakui bahwa masih akan ada hambatan mengingat bahwa penyebaran epidemi yang berkelanjutan secara global, dampak besar epidemi yang berkembang pada ekonomi global serta meningkatnya risiko dan tantangan eksternal, sehingga prospek pemulihan ekonomi nasional masih berada di bawah tekanan.

Melambatnya laju pertumbuhan permintaan global diperkirakan akan merugikan ekspor China dan ekonomi dunia diperkirakan akan jatuh dalam resesi di tahun ini seiring banyak negara di dunia yang telah menerapkan kembali kebijakan lockdown terhadap aktifitas bisnis dan ekonominya.(

Gulir ke Atas