Euro Jatuh, Terlemah Dalam Satu Bulan Ini

0

Euro jatuh ke level terendah satu bulan pada perdagangan di hari Selasa (25/01/2022)  karena ketegangan antara Rusia dan Barat atas Ukraina menarik investor ke dolar. Ini terjadi sehari sebelum Federal Reserve diperkirakan akan mengungkapkan rincian tentang rencananya untuk memperketat kebijakan moneter mereka.

Para pemimpin Barat meningkatkan persiapan untuk mengantisipasi setiap aksi militer Rusia di Ukraina. Moskow sejauh ini mengatakan bahwa pihaknya mengawasi dengan sangat prihatin setelah 8.500 tentara AS disiagakan untuk dikerahkan ke Eropa jika terjadi eskalasi.

Ketegangan tetap tinggi setelah NATO mengatakan pada hari Senin bahwa pihaknya menempatkan pasukan dalam keadaan siaga dan memperkuat Eropa timur dengan lebih banyak kapal dan jet tempur sebagai tanggapan atas penambahan pasukan Rusia di dekat perbatasannya dengan Ukraina. Harus diakui bahwa ketegangan Ukraina telah berdampak pada Euro dan bursa saham di Eropa, juga pada bursa komoditi energi, tetapi penguatan dolar AS disisi lain juga lebih berkaitan dengan pengetatan kebijakan Fed.

Pasar memperkirakan ada kenaikan suku bunga sebesar 1% pada oleh The Fed pada 2022. Diyakini sejauh ini akan dilakukan secara gradual dalam empat tahap. Hal ini pada akhirnya menjadi katalis utama penguatan dolar AS selama tiga bulan terakhir.

Sementara itu, penguatan Dolar AS makin kencang setelah terjadi penurunan tajam di bursa saham AS. Risk Aversion yang terjadi di pasar ekuitas secara luas terjadi sejak minggu lalu. Hal ini sekali lagi menguatkan peran dolar AS sebagai mata uang safe-haven utama, yang akan diburu investor untuk mengamankan asset mereka saat berusaha menghindari resiko.

Mata uang safe haven, biasanya naik ketika suku bunga diharapkan naik dan turun ketika ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan meningkat. Bukan hanya itu dolar AS naik selama periode risk-off tetapi juga naik bahkan ketika ekspektasi untuk pengetatan Fed dikupas kembali.

Bank sentral lain yang juga siap untuk menaikkan suku juga, menambah volatilitas dolar dimana sebelumnya telah mereda. Indek dolar memangkas beberapa kenaikan meski dengan catatan akhir naik 0,097%, dengan euro turun 0,23% menjadi $ 1,1297. Yen Jepang menguat 0,01% menjadi 113,92 per dolar. Franc Swiss turun 0,29% terhadap euro di 1,0379, tidak jauh dari 1,0298 yang baru-baru ini dicapai untuk yang terkuat sejak 2015.

The Fed sendiri dapat memperkuat rencana untuk menaikkan suku bunga dan mengecilkan kepemilikan obligasi Treasury AS dan sekuritas berbasis hipotek, yang telah membengkakkan neraca menjadi sekitar $9 triliun. Pertemuan dua hari The Fed berakhir Rabu.

Pandangan analis tentang pertemuan tersebut beragam, dimana Deutsche Bank menandai kejutan yang berpotensi hawkish selama beberapa bulan mendatang, dengan sebanyak enam atau tujuh kenaikan tahun ini. Tetapi jika pengurangan neraca Fed melakukan pengangkatan besar dari normalisasi kebijakan, itu dapat mengurangi perkiraan untuk jumlah kenaikan suku bunga. Fed Fund Rate, oleh pelaku bursa berjangka telah sepenuhnya diperhitungkan akan naik seperempat poin, yang akan diputuskan pada pertemuan Fed di bulan Maret, ditambah tiga lagi sepanjang 2022.

 

Sumber: news.esandar.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here