Ekonomi Inggris Mengalami Penyusutan Di Januari

Ekonomi Inggris Mengalami Penyusutan Di Januari
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Office for National Statistics merilis data pertumbuhan ekonomi Inggris yang mengalami penyusutan yang lebih kecil dari yang diperkirakan pada bulan Januari, saat berlakunya kebijakan lockdown Covid-19, seiring dorongan kenaikan yang cukup mengejutkan dari aktifitas konstruksi serta sektor kesehatan yang lebih kuat.

Dilaporkan bahwa produk domestik bruto Inggris di bulan Januari turun 2.9%, setelah mencatat kenaikan 1.2% di bulan Desember, yang mana penurunan ini lebih baik dari perkiraan penurunan sebesar 4.9% dari para ekonom, sehingga laju perekonomian saat ini sekitar 9% lebih kecil dibandingkan bulan Februari 2020 lalu sebelum negara tersebut dilanda pandemi.

Setidaknya hasil data ini akan dimasukkan dalam tinjauan kebijakan dalam keputusan Bank of England di pekan depan, untuk memastikan apakah Inggris akan membutuhkan lebih banyak stimulus guna memulihkan ekonominya dari kemerosotan terbesar dalam tiga abad terakhir.

Salah satu faktor yang mampu mendorong laju pemulihan adalah harapan Perdana Menteri Boris Johnson terhadap kampanye vaksinasi virus corona dalam waktu yang lebih cepat, yang dinilai memungkinkannya pencabutan kebijakan sebagian besar pembatasan di pertengahan tahun ini.

Dalam sebuah pernyataannya Deputi Ahli Statistik Ekonomi Nasional, Jonathan Athow mengatakan bahwa peningkatan layanan kesehatan yang merupakan bagian dari peluncuran vaksin Covid-19 serta meningkatnya pengujian vaksin tersebut, dinilai mampu mengimbangi penurunan yang terjadi di industri lainnya.

Sektor manufaktur dan jasa dilaporkan mengalami kontraksi, namun industri konstruksi mampu mencatat keuntungan dengan membukukan output 0.9% lebih tinggi dibandingkan bulan Desember sebelumnya, disaat sektor konstruksi menjadi hambatan terbesar di akhir tahun lalu, ketika sebagian besar sektor ekonomi lainnya mencatat kenaikan.

Untuk sektor jasa mengalami penurunan hingga 3.5% di bulan Januari, yang mana hal ini diakibatkan oleh output di sektor akomodasi dan layanan makanan serta sektor pendidikan yang mencatat penurunan masing-masing 28% dan 16.3%.

Selama awal tahun ini laju aktifitas di sektor kesehatan dan aktifitas sosial memberikan dorongan terbesarnya, demikian juga dengan sektor real estate dan komunikasi informasi yang meningkat selama Januari, sementara sektor yang mencakup layanan pribadi dan penata rambut mengalami penurunan hampir 21%.

Fase pertama dari data perdagangan resmi Inggris sejak meninggalkan Uni Eropa telah mengungkap kerusakan yang terjadi terhadap aliran barang dan jasa, yang mana dilaporkan ekspor ke Uni Eropa turun hingga 40.7% dari periode Desember-Januari sementara impor ke kawasan tersebut juga mencatat turun 28.8% akibat pukulan terhadap impor mesin dan peralatan transportasi, terutama mobil serta produk obat-obatan dan farmasi.

Terkait akan hal ini, Athow mengatakan bahwa baik impor dan ekspor ke Uni Eropa mengalami penurunan tajam di bulan Januari, yang kemungkinan disebabkan oleh faktor yang bersifat sementara, yang mana hasil survei mereka serta sejumlah indikator lainnya menunjukkan bahwa sektor perdagangan mulai akan pulih menjelang akhir bulan ini.

Saat ini Office for Budget Responsibility memperkirakan penurunan output sebesar 3.8% di kuartal pertama tahun ini, yang akan diikuti oleh pemulihan yang cepat ke level sebelum terjadinya pandemi saat memasuki kuartal kedua di tahun depan, atau sekitar enam bulan lebih awal dari perkiraan sebelumnya di bulan November lalu.

Bahkan Bank of England merasa lebih optimis dengan perkiraan ekonomi akan kembali ke level pra-pandemi di awal 2022 mendatang, setelah mengalami lonjakan hingga 14% dalam output selama setahun ini, meskipun Gubernur BoE Andrew Bailey telah memperingatkan adanya risiko ekonomi telah condong ke sisi negatifnya.

Disebutkan bahwa pandemi ini kemungkinan masih akan meninggalkan bekas luka terhadap perekonomian, dengan implikasi untuk segala hal mulai dari tingkat pengangguran hingga kenaikan pajak pada akhirnya atau bahkan pemangkasan pengeluaran yang diperlukan untuk memperbaiki keuangan publik.

Berdasarkan skenario utama yang disusun oleh Office for Budget Responsibility maka output akan berada sekitar 3% lebih rendah dalam jangka menengah dibandingkan jika pandemi tidak terjadi, sedangkan Bank of England memperkirakan hit jangka panjang di kisaran angka 1.75%.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Artikel Forex Lainnya

Gulir ke Atas