Ekonomi Australia Masih Akan Mengalami Kontraksi

Ekonomi Australia Masih Akan Mengalami Kontraksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Seiring data yang dirilis oleh Australian Bureau of Statistics (ABS) yang menunjukkan bahwa ekonomi Australia mengalami kontraksi hingga sebesar 0.3% senilai A$2 triliun ($1.39 triliun) pada kuartal pertama lalu, Bendahara Asutralia mengatakan bahwa ekonomi Australia telah mengalami resesi akibat dari seluruh sektor bisnis Australia mengalami lockdown terkait pandemi Covid-19.

Data tersebut membawa pertumbuhan tahunan Australia menjadi 1.4% di laju paling lambat sejak krisis keuangan global di tahun 2009 silam, akibat dari pukulan yang diterima oleh ekonomi Australia setelah bencana kebakaran terburuk dalam sejarah, musim kekeringan yang berkepanjangan serta pandemi virus yang menutup sektor bisnis dan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan.

Ketika ditanya apakah negara itu sudah dalam resesi, Bendahara Josh Frydenberg menjawab dengan tegas bahwa berdasarkan apa yang pihaknya ketahui dari Departemen Keuangan, pihaknya menilai akan terjadi kontraksi di kuartal kedua, yang akan jauh lebih substansial dibandingkan yang telah terjadi di kuartal pertama lalu.

Kontraksi yang terjadi dalam dua kuartal secara beruntun akan menandai resesi secara teknis untuk yang pertama kalinya bagi Australia sejak awal 1990-an, sekaligus mengakhiri salah satu serangkaian pertumbuhan terpanjang dibandingkan negara lainnya di dunia.

Konsumsi rumah tangga adalah hambatan terbesar pada pertumbuhan di periode triwulan lalu, menyusul penurunan dalam skala besar di laju pengeluaran untuk produk pakaian, mobil, transportasi, rekreasi, hotel, cafe dan restoran.

Untuk laju ekspor bersih serta pengeluaran pemerintah turut memberikan dukungan bagi perekonomian Australia di kuartal ini.

Terkait akan semua yang menimpa perekonomian Australia, RBA telah melakukan langkah dengan memangkas suku bunga mereka hingga ke rekor terendahnya di 0.25% serta sekaligus meluncurkan program pembelian obligasi tanpa batas, sementara pemerintahnya mengeluarkan rencana stimulus fiskal dalam jumlah yang besar, termasuk skema subsidi upah hingga senilai A$60 milliar.

Dalam sebuah catatannya ekonom NAB, Kaixin Owyong mengatakan bahwa pandemi yang terjadi saat ini akan menghasilkan penurunan dalam skala besar di aktifitas ekonomi periode kuartal kedua, sebelum melakukan pemulihan di kuartal ketiga, namun pemulihan secara penuh masih membutuhkan beberapa waktu lagi karena tidak ada jadwal untuk membuka kembali perbatasan yang memungkinkan masuknya wisatawan asing dan pelajar dari luar Australia yang ingin bersekolah di negara tersebut.

Lebih lanjut Owyong juga mengatakan bahwa pemulihan secara penuh juga membutuhkan kepercayaan terhadap data kesehatan dan ekonomi untuk kembali pulih, dimana sektor rumah tangga kemungkinan akan bersikap hati-hati dalam beberapa waktu kedepan mengingat tingkat kehilangan pekerjaan telah mencapai rekornya dan pasar tenaga kerja yang tertinggal dari langkag-langkag pemulihan.(

Gulir ke Atas