Ekonom Memperkirakan Korea Selatan Akan Dilanda Krisis Ekonomi

Ekonom Memperkirakan Korea Selatan Akan Dilanda Krisis Ekonomi

Sejumlah ekonom Korea Selatan memperingatkan bahwa negara tersebut kemungkinan dapat menghadapi krisis ekonomi besar di tahun depan, yang diperkirakan dampaknya akan sama seperti krisis keuangan Asia di tahun 1997 dan runtuhnya ekonomi global pada tahun 2008 silam.

Sebuah survey yang dilakukan oleh majalah ekonomi bulanan terbesar Korea, Maekyung Luxmen yang bekerja sama dengan Korea Economic Research Institute, menyebutkan bahwa setengah dari 30 pakar ekonomi telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi terjadinya krisis, sementara separuh lagi sisanya mengatakan bahwa ada kemungkinan ke arah sana namun lebih kecil.

Mereka yang mengambil bagian dalam survei ini termasuk profesor perguruan tinggi, ekonom di lembaga think tank dan perusahaan keuangan, serta kepala pusat penelitian di rumah pialang.

Dari sisi waktu terjadinya, 40% ekonom memperkirakan hal ini akan terjadi di paruh kedua tahun 2020, sementara 6.6% memperkirakan akan terjadi di paruh pertama tahun depan dan sisanya sebanyak 3.3% menyebutkan bahwa krisis kemungkinan akan terjadi pada periode kuartal keempat tahun ini. Mayoritas pakar ekonomi di negeri ginseng tersebut telah memberikan pandangan suram mengenai ekonomi Korea Selatan.

Dari 30 responden yang disurvey, 29 diantaranya memproyeksikan bahwa besaran GDP negera tersebut akan tumbuh kurang dari 2% di tahun ini, atau jauh dari perkiraan pemerintah di angka 2.4-2.5 persen atau perkiraan dari Bank of Korea yang memperkirakan besaran GDP sebesar 2.2%.

Selanjutnya para responden menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap manajemen ekonomi dari Presiden Moon Jae-in. Menurut para ekonom, kebijakan ekonomi yang paling bermasalah menurut 30% responden adalah kampanye pertumbuhan yang didorong oleh laju pendapatan, 10.6% menilai dari kenaikan upah minimum, dan 10.6% sisanya menganggap berkurangnya minggu kerja merupakan kebijakan ekonomi yang bermasalah.

Di bawah platform ekonomi untuk mendorong pertumbuhan melalui pendapatan yang lebih tinggi, Moon menaikkan upah minimum 16.4% pada 2018 dan 10.9% lainnya pada 2019. Namun kenaikan dua digit itu mendapat reaksi keras dari sektor korporasi, terutama usaha kecil yang sering tidak dapat meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada pelanggan.

Selain itu hasil survey tersebut juga menunjukkan bahwa industri dalam negeri yang sangat membutuhkan restrukturisasi karena kelebihan pasokan atau buruknya penjualan adalah 16% menganggap produk mobil, 12.5% ritel offline, 10.7% konstruksi atau peralatan konstruksi, 10.7% produk keuangan dan asuransi, serta 10.7% menilai penerbangan dan transportasi.

Ketika ditanya tentang risiko terbesar yang dihadapi ekonomi global pada kuartal keempat, 73% responden menunjuk pada Trade War AS-Cina, diikuti oleh perlambatan ekonomi global (13%), Brexit (5%), dan sengketa perdagangan yang berkepanjangan. antara Korea dan Jepang (5%).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here