fbpx

Dukungan BoJ Dianggap Akan Menekan Pemberi Pinjaman

Dukungan BoJ Dianggap Akan Menekan Pemberi Pinjaman
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Dukungan yang datang dari Bank of Japan untuk menjaga biaya pinjaman tetap rendah untuk meredam pukulan ekonomi yang timbul dari pandemi dengan mengorbankan pihak pemberi pinjaman negara, yang sudah menderita akibat tekanan suku bunga ultra rendah selama beberapa dekade terakhir.

Meningkatnya biaya kredit telah melukai lembaga keuangan dari segala ukuran, namun pukulan tersebut akan sangat sulit bagi bank-bank regional dalam skala yang lebih kecil, yang membentuk sekitar setengah dari pinjaman yang diperpanjang di Jepang dan saat ini telah menderita akibat penyusutan ekonomi dan penurunan margin hingga ke 0.2%.

Kondisi inilah yang menggarisbawahi dilema yang timbul akibat kebijakan Bank of Japan, yang semakin meratakan kurva imbal hasil, sehingga semakin menekan para pemberi pinjaman untuk membantu menghidupkan kembali ekonomi Jepang.

Dalam hal ini apa yang telah dilakukan oleh BoJ selama ini telah menjadi ukuran kesulitan yang melekat dalam pengelolaan langkah yield curve control pada saat kebijakan mereka mendapatkan lebih banyak perhatian dari bank sentral di seluruh dunia sebagai cara untuk melawan penurunan yang terjadi akibat pandemi.

Semuanya ini juga menyoroti perjuangan BOJ dalam mencari tahu bentuk kurva imbal hasil yang tepat, yang diperlukan untuk membantu membiayai paket stimulus dalam jumlah besar dari pemerintah dengan biaya yang rendah, tanpa harus menimbulkan tekanan terhadap hasil hutang dalam jangka waktu yang lebih lama.

Izuru Kato yang menjabat sebagai kepala ekonom di Totan Research, menilai bahwa pandemi Covid19 telah mengubah yield curve corntrol menjadi alat untuk membantu pemerintah menerbitkan hutang dengan lancar, dan bagian tersulit dari semua ini adalah bahwa dalam melakukan hal tersebut pihak bank sentral Jepang telah menimbulkan kerusakan dalam skala besar terhadap sektor perbankan sekaligus melemahkan kemampuan mereka untuk memberikan pinjaman.

Bank biasanya mendapatkan keuntungan dengan mengadakan dana jangka pendek yang murah dan meminjamkan jangka panjang dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Akan tetapi kebijakan bank sentral ini telah memeras imbal hasil jangka panjang, mempersempit margin hingga memicu kekhawatiran mengenai keberlangsungan hidup sejumlah bank yang lebih lemah. Jepang memiliki lebih dari 100 bank regional yang fokus pada pemberian pinjaman kepada perusahaan-perusahaan di daerah tempat mereka tinggal, dan dengan hubungan yang lebih dekat dalam jangka waktu yang panjang dengan pihak peminjam, mereka dapat memainkan peran kunci dalam merevitalisasi ekonomi regional.

Lebih dari 70% bank regional Jepang mengalami penurunan laba atau mengalami kerugian pada tahun fiskal yang berakhir pada Maret, sementara gabungan kredit macet hingga saat ini telah bernilai 3.7 triliun Yen ($34.5 milliar) atau naik 2% dari tahun lalu dan berjumlah hampir empat kali lipat laba dari operasi inti.

Tetsuya Kan selaku pimpinan di lembaga pemberi pinjaman regional yang berbasis di Osaka, Kansai Mirai Bank, mengatakan bahwa sangat sulit bagi pihaknya untuk menerapkan kebijakan di bawah suku bunga negatif, sehingga akan sangat baik jika bank sentral membantu menajamkan kurva imbal hasil.

Pada awal bulan ini Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa tidak ada perubahan dalam pandangannya bahwa penurunan berlebihan dalam imbal hasil dalam skala panjang memang tidak diinginkan karena dapat merusak keuntungan bank.

Dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan penjualan obligasi lebih dari 30% mulai Juli untuk mendanai paket stimulus besar, beberapa investor mengharapkan bank sentral untuk meningkatkan pembelian.(

Gulir ke Atas