• 12 Desember 2019

Dollar Menguat Terhadap Yen, Aussie Stabil Menjelang RBA Rate Statement

Dollar Menguat Terhadap Yen, Aussie Stabil Menjelang RBA Rate Statement

Dollar berhasil mencapai level tertingginya dalam hampir dua pekan terakhir terhadap mata uang Yen, menjelang risil data manufaktur AS yang diperkirakan akan menunjukkan laju pertumbuhan di sektor tersebut, sehingga dinilai mampu untuk meredakan kekhawatiran mengenai dampak dari trade war AS-Cina.

Sementara itu mata uang tunggal Euro terpuruk mendekati level terendahnya dalam lebih dari dua tahun terhadap US Dollar, menyusul data ekonomi Jerman yang lemah sehingga memperkuat harapan bahwa kebijakan moneter di Eurozone akan tetap akomodatif selama period eyang diperpanjang.

Melemahnya Yen didorong oleh data Tankan dari Bank of Japan yang menunjukkan bahwa kepercayaan bisnis di kuartal ketiga mengalami penurunan hingga ke level terendahnya dalam enam tahun. Hasil survei terhadap laju aktifitas manufaktur AS yang akan dirilis oleh Institute for Supply Management, diperkirakan akan memberikan cerminan ekspansi di bulan September, namun ekspansi ini diperkirakan tidak terlalu besar.

Pada bulan Agustus sebelumnya, laju aktifitas manufaktur AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir akibat trade war yang telah berlangsung selama 15 bulan. Sejumlah pejabat bank sentral AS dijadwalkan akan berbicara di pekan ini, namun para pelaku pasar mengatakan bahwa mereka akan tetap fokus pada komentar dari Ketua The Fed, Jerome Powell untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.

Sepanjang tahun ini Federal Reserve telah memangkas suku bunga sebanyak dua kali, namun masih ada tanda-tanda bahwa The Fed enggan untuk melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut, seiring masih kuatnya pasar tenaga kerja.

Laju inflasi tahunan di Jerman, sebagai negara ekonomi terbesar di Eropa, mengalami perlambatan hingga ke level terendah dalam hampir tiga tahun terakhir. Sebelumnya European Central Bank telah mengeluarkan putaran baru dari langkah-langkah pelonggaran moneternya, namun masih ada kekhawatiran bahwa bank sentral telah mencapai batas yang mampu dicapai dan beban tersebut akan berada di pundak pemerintah Eurozone untuk meningkatkan pengeluaran fiskal.

Sedangkan Aussie mencatat kenaikan tipis menjelang dirilisnya hasil kebijakan moneter dari Reserve Bank of Australia pada siang ini. Sejumlah data ekonomi dan komentar dari gubernur bank sentral Australia di pekan ini, akan menentukan arah pergerakan mata uang Aussie, seiring para pelaku pasar yang mencoba untuk menentukan seberapa jauh para pembuat kebijakan menentukan langkah untuk meningkatkan laju pertumbuhan.

Bank sentral Australia diperkirakan akan memangkas suku bunga hingga ke rekor terendah di 0.75% dan kemungkinan akan melonggarkan kebijakan moneternya di awal 2020 mendatang, guna meningkatkan laju inflasi dan memberikan dukungan terhadap ekonomi yang lemah.(WD)