Ming, 17 November 2019

Dollar Di Level Tertingginya Terhadap Yen

Dollar Di Level Tertingginya Terhadap Yen

Menjelang pertemuan para pembuat kebijakan Federal Reserve paken ini, pergerakan mata uang US Dollar bergerak mendekati level tertingginya dalam lebih dari dua bulan terhadap mata uang Yen.

Penguatan Greenback ini terjadi meskipun pasar memperkirakan bahwa The Fed pasti akan memangkas suku bunganya namun tetap ada penekanan bahwa mereka enggan untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneternya.

Fokus pasar saat ini beralih kepada pertemuan Federal Reserve dan pertemuan kebijakan Bank of Japan pada pertengahan pekan ini.

Yukio Ishizuki selaku ahli strategi valuta asing di Daiwa Securities Tokyo, mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga oleh The Fed telah diperhitungkan oleh pasar, akan tetapi Dollar akan mendapat minat beli kembali jika The Fed memberikan isyarat bahwa mereka tidak akan memangkas suku bunga lebih lanjut kedepannya, dengan demikian para pedagang cenderung untuk menyesuaikan posisi perdagangannya di mata uang Dollar.

Dorongan terhadap greenback secara moderat terlihat sesaat setelah kantor perwakilan dagang AS mengatakan bahwa mereka hampir merampungkan sejumlah poin penting dari perjanjian perdagangannya dengan Cina. Sementara pada akhir pekan kemarin,

Kementerian Perdagangan Cina mengatakan bahwa konsultasi secara teknis di sejumlah poin dari perjanjian perdagangan pada dasarnya telah mampu diselesaikan, namun para investor cenderung bersikap skeptis karena mereka menilai bahwa kesepakatan tidak akan mampu menghilangkan risiko yang telah ditimbulkan akibat gesekan perdagangan yang telah berlangsung selama lebih dari setahun belakangan.

Federal Reserve diperkirakan akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, namun sejumlah analis memperkirakan bahwa bank sentral AS akan bersikap lebih hawkish dari sebelumnya dengan memberikan penegasan bahwa siklus pemangkasan suku bunga tidak akan dilanjutkan kedepannya.

Sementara itu Bank of Japan dinilai akan lebih condong untuk tetap menjaga arah kebijakan moneter mereka, namun keputusan ini akan menjadi rambu bagi para pembuat kebijakan di bank sentral tersebut untuk berupaya lebih keras di tengah ancaman terhadap prospek global yang diakibatkan oleh dampak perang perdagangan AS-Cina serta sentimen yang timbul terkait ketidakpastian Brexit.

Sedangkan ketidakpastian terkait keberangkatan Inggris dari Uni Eropa, telah memberikan tekanan terhadap mata uang Poundsterling yang bergerak lebih rendah dibandingkan mata uang Euro dan Dollar. Ketidakpastian ini kembali timbul setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson gagal untuk memenangkan persetujuan untuk jadwal Brexit.

Pada hari ini 27 duta besar dari negara anggota Uni Eropa, akan melakukan pertemuan di Brussels guna menyetujui penundaan Brexit dalam tiga bulan kedepan dari jadwal semula di 31 Oktober. Pasca warga Inggris memberikan suara mereka dalam referendum sejak lebih dari tiga tahun lalu, pemerintah Inggris dan parlemennya telah mengalami perbedaan pendapat yang meruncing mengenai bagaimana, kapan dan bahkan mengenai apakah Brexit ini akan tetap diteruskan atau tidak, sehingga permasalahan ini telah memicu terjadinya krisis politik di Inggris.(

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here