• 7 April 2020

Dolar AS Melonjak, Investor Khawatirkan “Economy Lockdown”

Berita EMAS – Dolar AS melonjak pada perdagangan di hari Selasa (17/03/2020) karena banyak perusahaan dan investor memburu kembali mata uang paling likuid ini di tengah kekhawatiran tentang penutupan ekonomi dari penyebaran global virus corona.

Sebelumnya, Federal Reserve pada
hari Minggu telah menurunkan suku bunganya menjadi nol dan meluncurkan program
pembelian obligasi baru. Bank-bank sentral lain telah mengambil langkah-langkah
serupa tetapi langkah sejauh ini gagal membendung ketegangan likuiditas dan
kepanikan pasar. Bank-bank sentral juga memangkas harga pada jalur swap mereka
untuk memudahkan menyediakan dolar bagi lembaga-lembaga keuangan di seluruh
dunia.

Bank of Japan pada hari Selasa
melakukan suntikan dana dolar terbesar sejak 2008 dan Korea Selatan juga berjanji
untuk segera bertindak. Tetapi pasar pendanaan menunjukkan tekanan yang
berkelanjutan dalam mencari greenback.

Tekanan ini justru membantu
mengangkat Dolar AS. Spread swap berbasis mata uang silang euro / dolar tiga
bulan naik hingga 120 basis poin – terlebar sejak akhir 2011 – sebelum jatuh
kembali ke 39 basis poin.

Dolar sendiri awalnya jatuh pada permulaan
bulan Maret karena imbal hasil obligasi pemerintah AS jatuh, tetapi dolar sejak
itu rebound, dan diukur terhadap sekeranjang mata uang utama sekarang naik
lebih dari 5% sejak 9 Maret. Indeks dolar AS terakhir berada di 99,72, naik
1,63%. Dalam perdagangan dengan Euro, pasangan EURUSD turun 1,77% menjadi $
1,098.

Federal Reserve A.S. pada hari
Selasa mengatakan akan mengembalikan fasilitas pendanaan yang digunakan selama
krisis keuangan 2008 untuk mendapatkan kredit langsung ke bisnis dan rumah
tangga.

Investor juga mencari pemerintah
untuk meluncurkan stimulus fiskal baru untuk membantu mengimbangi penurunan
ekonomi.

Presiden A.S. Donald Trump mengumumkan
rencana pada hari Selasa untuk mengirim uang ke Amerika segera untuk mengurangi
guncangan ekonomi dari krisis coronavirus.

Data ekonomi pada hari Selasa
menunjukkan bahwa penjualan ritel AS secara tak terduga turun pada bulan
Februari, dengan rumah tangga mengurangi pembelian berbagai produk, dan wabah
coronavirus diperkirakan akan menekan penjualan di bulan-bulan mendatang.