Data Pekerjaan Inggris Mencatat Hasil Yang Baik

Data Pekerjaan Inggris Mencatat Hasil Yang Baik
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Data di pasar tenaga kerja Inggris dirilis dengan hasil yang beragam, namun secara keseluruhan menunjukkan hasil yang lebih baik dan berpotensi memberikan dukungan bagi ekonomi di negeri Ratu Elizabeth tersebut.

Para pengusaha di Inggris mencatat data penggajian hingga menyentuh rekor tertingginya di bulan September lalu, yang mana data ini dirilis sesaat sebelum berakhirnya program subsidi upah dari pemerintah, sehingga berpotensi mendorong Bank of England untuk menuju kenaikan suku bunga untuk pertama kalinya pasca pandemi.

Data yang dirilis hari ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah karyawan terbesar dalam skala bulanan, dengan mencatat kenaikan sebanyak 207 ribu dari bulan Agustus menyusul para pengusaha yang beralih ke agen perekrutan untuk mencari staf serta memulihkan perusahaan akomodasi dan makanan untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Selain itu sebuah data terpisah lainnya menunjukkan tingkat pengangguran mengalami penurunan tipis menjadi 4.5% dalam tiga bulan terakhir hingga 4.6% dari periode Mei-Juli, yang mana angka ini sesuai dengan perkiraan dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.

Bank of England yang saat ini tengah bersiap menjadi bank sentral utama dunia yang pertama menaikkan suku bunganya pasca krisis yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona, akan mengamati berapa banyak orang yang menjadi pengangguran pasca berakhirnya program cuti dari pemerintah.

Menurut perkiraan dari sebuah lembaga think tank, Resolution Foundation memperkirakan bahwa sekitar 1 juta orang kemungkinan telah mengikuti skema dari program pemerintah yang berakhir 30 September, sementara ahli strategi makro dan investasi di HSBC Asset Management, Hussain Mehdi mengatakan bahwa data tersebut telah membuka kemungkinan kenaikan suku bunga dari BoE sebelum akhir tahun.

Lebih lanjut Mehdi menambahkan bahwa data yang dirilis hari ini menunjukkan peningkatan berkelanjutan dalam kesehatan pasar tenaga kerja Inggris, meskipun terlalu dini untuk menilai dampak dari berakhirnya skema cuti pada bulan September.

Namun beliau juga mengatakan bahwa nada hawkish baru-baru ini dari anggota Monetary Policy Committee menunjukkan kekhawatiran inflasi untuk saat ini menjadi perhatian utama, yang menurunkan standar untuk kenaikan suku bunga dan laporan pekerjaan di bulan Oktober yang layak dapat membuka pintu untuk kenaikan dalam waktu dekat pasca pertemuan Desember.

Bank sentral Inggris juga memantau laju pertumbuhan gaji untuk mencoba mengukur seberapa kuat lonjakan inflasi baru-baru ini. Dilaporkan pula bahwa penghasilan mingguan rata-rata dirilis di 7.2% lebih tinggi dibandingkan tiga bulan yang sama di tahun 2020, dan melambat dari pembacaan sebelumnya sebesar 8.3%, namun jika tidak termasuk bonus maka pendapatan mencatat kenaikan sebesar 6.0% pada periode Juni-Agustus, yang juga kehilangan beberapa momentum.

Office for National Statistics memperkirakan laju pertumbuhan upah yang mendasarinya dengan mempertimbangkan bagaimana hilangnya pekerjaan selama diterapkannya kebijakan lockdown virus corona, yang mempengaruhi sebagian besar pekerja dengan bayaran yang lebih rendah, berada di kisaran 4.1% dan 5.6% untuk pembayaran reguler secara nominal, dari laju pertumbuhan gaji reguler sekitar 3% sebelum pandemi melanda.

Terkait akan kondisi pasar tenaga kerja Inggris, Menteri Keuangan Rishi Sunak mengatakan bahwa pihak pemerintah berkomitmen untuk membantu warganya untuk mencari pekerjaan setelah berakhirnya skema cuti.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas