• 12 Desember 2019

Cina Berharap AS Menghapus Bea cukai Impor Jika Ingin Mencapai Kesepakatan

Kementerian Perdagangan Cina pada hari ini mengatakan bahwa kebijakan tingkat pajak AS yang ada saat ini harus dihapus jika menginginkan adanya kesepakatan dagang antara Beijing dengan Washington.

Pada akhirnya kedua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia tersebut telah sepakat untuk melanjutkan kembali perundingan perdagangan yang sempat mengalami kemacetan di bulan mei lalu setelah para pejabat AS menuduh Cina menarik kembali komitmen mereka yang telah dibuat dalam suatu teks pakta perjanjian yang sebelumnya disebut akan segera dirampungkan.

Untuk memulai kembali kompromi dagang diantara keduanya, Presiden Donald Trump sepakat untuk tidak memberlakukan kebijakan tingkat pajak senilai sekitar $300 milliar terhadap produk impor tambahan dari Cina serta sekaligus mengurangi pembatasan terhadap perusahaan raksasa teknologi Cina, Huawei.

Saat ini AS memiliki tingkat pajak 25% untuk barang-barang Cina senilai $ 250 miliar, mulai dari furnitur hingga semikonduktor. Pihak Beijing sendiri menyambut baik keputusan Washington untuk menunda kebijakan tingkat pajak baru terhadap barang-barang produknya.

Seorang pejabat dari Kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan kemudian bahwa kedua pihak sedang dalam proses penjadwalan dengan para pejabat Tiongkok untuk pertemuan yang rencananya akan diadakan pekan depan.

Negosiator utama di pihak A.S. adalah Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin, sementara negosiator top China adalah Wakil Perdana Menteri Liu He. Sejak akhir pekan lalu, kedua belah pihak telah saling berkomunikasi melalui telepon, saat kedua pemimpin negara tersebut sepakat untuk menjalin kembali perundingan dagang keduanya.

Pasar global sangat berharap banyak terhadap kelanjutan perundingan tersebut, seiring sektor perdagangan global yang terus menderita akibat perselisihan perdagangan antar kedua negara, sehingga berpotensi memperlambat lintasan pertumbuhan global, bahkan jika perselisihan ini masih berlanjut hingga akhir tahun, maka tidak menutup kemungkinan akan menciptakan krisis global baru.(WD)

Sumber: Topgrowth Futures, Investing.