• 21 Januari 2020

Cina Akan Tetap Mempertahankan Target Inflasi Di Tahun Ini

Sebuah sumber terpercaya mengatakan bahwa Cina telah memutuskan untuk mempertahankan target inflasi mereka tidak berubah di kisaran 3% pada tahun ini, sehingga mendorong para pembuat kebijakan untuk terus meluncurkan stimulus ekonomi secara bertahap sekaligus menghindari langkah-langkah yang lebih agresif.

Sejumlah analis berspekulasi bahwa pemerintahan Beijing akan menaikkan target inflasi menjadi 3.5%, yang akan memberi lebih banyak ruang bagi pihak otoritas untuk mendukung ekonomi Cina karena pertumbuhannya mengalami perlambatan dalam hampir 30 tahun terakhir.

Namun demikian sumber-sumber kebijakan mengatakan kepada pihak Reuters bahwa pemerintah telah memperkirakan lonjakan harga pangan akan mulai berkurang di paruh kedua tahun ini, karena pemerintah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kekurangan produk daging babi.

Target inflasi 2020, yang akan diumumkan pada sesi parlemen tahunan pada awal Maret, disahkan oleh para pemimpin puncak di Konferensi Kerja Ekonomi Pusat tertutup pada bulan lalu.

Namun demikian State Council Information Office dan National Development and Reform Commission sebagai perencana negara, tidak segera menanggapi permintaan untuk memberikan komentar dari Reuters. Indeks harga konsumen Cina melaju ke level tertingginya dalam hampir delapan tahun di kisaran 4.5% pada bulan November lalu, seiring kenaikan harga daging babi akibat adanya wabah demam babi Afrika, namun harga produsen tetap berada dalam zona deflasi selama lima bulan berturut-turut.

Tren harga yang berbeda mengandung upaya dari para pembuat kebijakan yang rumit untuk menghidupkan kembali aktifitas tanpa risiko berlebihan guna merangsang laju pertumbuhannya.

Sementara Beijing telah meluncurkan serangkaian langkah-langkah dukungan dalam dua tahun terakhir, terutama dalam bentuk pengeluaran infrastruktur yang lebih tinggi dan pemotongan pajak, dan para pemimpin Cina telah berjanji untuk tidak memulai stimulus besar-besaran seperti yang dilakukan oleh mereka saat terjadinya krisis global 2008-2009, yang menciptakan hutang dalam jumlah yang sangat besar yang hingga saat ini masih membebani perekonomian Cina.

Akan tetapi sesorang yang dekat dengan dewan kebijakan, mengatakan bahwa pemerintah kemungkinan akan menghadapi pekerjaan berat dalam menjaga inflasi dibawah 3% di tahun ini. Meningkatnya ekspektasi inflasi dapat memperkuat pendekatan hati-hati pemerintah untuk pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut, namun dukungan untuk Beijing masih tetap ada.

Selain itu People’s Bank of China sepertinya telah mulai menurunkan suku bunga utama mereka dalam beberapa bulan terakhir, dengan kemungkinan penurunan yang lebih besar dapat terjadi sebelum akhir bulan Januari ini, namun pemangkasannya jauh lebih kecil dibandingkan pelonggaran substansial yang terjadi di AS.

Beberapa sumber tersebut juga menyebutkan bahwa Beijing berencana untuk menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah di kisaran 6% untuk tahun ini, namun bergantung pada peningkatan belanja infrastruktur negara untuk memacu investasi, konstruksi dan lapangan kerja.(