China Mencatat Rekor Surplus Perdagangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Laju ekspor yang mampu mengungguli ekspektasi ekonomi di tengah kondisi pandemi yang melanda, membuat sektor perdagangan China mampu mencetak rekor surplus di bulan Desember selama setahun penuh, namun sejumlah analis menunjukkan kemungkinan terjadinya perlambatan pengiriman internasional dalam beberapa bulan mendatang.

Biro Statistik melaporkan bahwa neraca perdagangan China mencatat surplus hingga mencapai $ 676.43 milliar selama tahun 2021 lalu, yang merupakan angka tertingginya sejak pencatatan ini dimulai pada tahun 1950, dan mencatat kenaikan dari pencapaian sebesar $ 523.99 milliar pada tahun 2020 sebelumnya.

Selain itu dilaporkan juga bahwa China mencatat rekor surplus perdagangan dalam skala bulanan pada Desember lalu, sebesar $ 94.46 milliar, naik tajam dari $ 71.72 milliar di bulan November sebelumnya dan masih di atas perkiraan surplus $ 74.50 dalam jajak pendapat Reuters, menyusul laju ekspor yang tetap kuat di tengah pertumbuhan impor yang mengalami perlambatan yang tajam.

Ekonom senior China di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa ekspor tetap kuat di bulan Desember lalu, namun mungkin akan melemah dalam beberapa bulan mendatang, seiring meningkatnya gangguan di pelabuhan, yang mana dilaporkan bahwa ekspor meningkat 20.9% di tingkat tahunan pada bulan lalu, mengalahkan ekspektasi kenaikan sebesar 20%, namun begitu masih lebih rendah dari kenaikan 22% di bulan November.

Sebelumnya dilaporkan bahwa ada sebanyak total 143 kasus infeksi secara lokal, yang dikonfirmasi pada 13 Januari kemarin, termasuk di sebelah Utara dari kota pelabuhan utama Tianjin.

Impor mencatat kenaikan 19.5% di tingkat tahunan pada bulan Desember, meleset dari perkiraan kenaikan 26.3%, sekaligus mengalami penurunan tajam dari kenaikan 31.7% di bulan November, sehingga Evans-Pritchard menilai bahwa penurunan tajam di impor sejalan dengan berlanjutnya pelemahan domestik, terutama di sektor properti.

Negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah melakukan pemulihan yang mengesankan dari pandemi, dengan laju ekspor yang membantu mendorong pertumbuhan karena sejumlah sektor lainnya goyah, akan tetapi terdapat sejumlah tanda-tanda bahwa momentumnya tengah berada dalam kondisi yang lesu, menyusul penurunan sektor properti serta pembatasan ketat untuk mencegah Covid-19 yang menjadi hambatan yang mengaburkan prospek di tahun ini.

Ekonomi China kemungkinan akan mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 5.2% di tahun ini, sebelum pada akhirnya berjalan stabil di tahun 2023 mendatang, seiring bank sentral yang terus meningkatkan pelonggaran kebijakan untuk menangkal laju penurunan yang lebih tajam.

Louis Kuijs selaku kepala ekonomi Asia di Oxford Economics mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan pertumbuhan impor akan tetap diredam di semester pertama tahun ini karena permintaan domestik China akan terus dihambat oleh perlambatan properti dan konsumsi yang lemah.

Sementara itu Zhang Zhiwei yang menjabat sebagai kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, mengatakan dalam sebuah catatannya bahwa ekspor China mungkin mendapat manfaat dari gangguan Omicron ke rantai pasokan dari negara lain.

Zhang juga menyampaikan bahwa pihaknya memperkirakan ekspor China akan tetap kuat di periode kuartal pertama, karena permintaan global yang tangguh serta kondisi pandemi yang semakin buruk di banyak negara berkembang, dan saat ini laju ekspor yang kuat kemungkinan akan menjadi satu-satunya pendorong yang membantu perekonomian China.

Wakil menteri perdagangan China mengatakan pada 30 Desember bahwa negara itu akan menghadapi tingkat kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam menstabilkan perdagangan luar negeri pada tahun 2022, karena eksportir lain meningkatkan produksi dan di tengah dasar perbandingan yang kurang menguntungkan.

Untuk membantu para eksportir sekaligus mengurangi tekanan terkait masalah logistik internasional, maka kantor berita resmi Xinhua di akhir tahun lalu mengatakan bahwa pemerintah China akan meluncurkan lebih banyak kebijakannya, melalui Dewan Negara China yang diketuai oleh Perdana Menteri Li Keqiang.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas