Dalam serangkaian proyeksi mengenai risiko potensial yang terperinci, Bank sentral Irlandia mengatakan bahwa Brexit No-Deal akan menghadirkan tantangan yang besar bagi perekonomian di negara tersebut dan sekaligus juga akan memangkas laju pertumbuhannya menjadi hanya 0.8% di tahun depan.

Laju pertumbuhan ekonomi Irlandia yang cepat dianggap paling rentan terhadap dampak dari Brexit dibandingkan negara-negara anggota Uni Eropa yang lainnya, karena hubungan perdagangannya yang dekat dan berbagi perbatasan darat dengan Inggris.

Jika Inggris meninggalkan Uni Eropa pada akhir bulan ini tanpa adanya periode transisi, maka perkiraan resmi dari pemerintah Irlandia untuk laju pertumbuhan produk domestik bruto ada di angka 0.7%, yang mana data ini akan digunakan oleh Menteri Keuangan Irlandia Paschal Donohoe sebagai acuan dasar untuk menyusun apa yang disebut “no-deal budget” untuk tahun 2020 mendatang.

Dalam hal ini bank sentral merasa kurang optimis dan memprediksikan bahwa dalam skenario Hard Brexit maka pertumbuhan akan meningkat menjadi 1.9% di tahun 2021 mendatang, lebih rendah dari perkiraan pemerintah sebesar 2.5% dan menilai bahwa tingkat pengangguran akan naik menjadi 6.9% dalam waktu dua tahun mendatang, lebih tinggi dari perkiraan 5.9% yang ada dalam catatan Departemen Keuangan Irlandia.

Dalam proyeksi triwulanannya bank sentral menyatakan bahwa ketidakpastian saat ini mempengaruhi dari perkiraan pelaksanaan penyusunan target pertumbuhan, dan Brexit No-Deal akan menghadirkan tantangan yang sangat besar dan mengakibatkan hilangnya output dan laju pertumbuhan lapangan kerja yang signifikan dibandingkan dengan skenario tidak adanya Brexit.

Mereka juga mengatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya mereka menerbitkan dua perkiraan terperinci untuk ekonomi negara tersebut, sekaligus memprediksi bahwa jika Hard Brexit bisa dihindari maka ekonomi akan berkembang sebesar 4.3% di tahun depan dan 3.9% di tahun 2021 mendatang.

Direktur Ekonomi Mark Cassidy mengatakan pada konferensi pers bahwa saat ini bank sentral cukup nyaman dengan rencana pemerintah untuk membiarkan keuangan negara kembali berada dalam kondisi defisit dalam proses Brexit yang penuh ketidakpastian dan sangat masuk akal untuk memungkinan ekonomi menyerap segala kejutan yang mungkin terjadi sembari memberikan dukungan terhadap sektor bisnis yang mengalami tekanan.

Lebih lanjut pihak bank sentral mengeluarkan peringatan bahwa sangat penting artinya untuk menekankan seberapa besar tingkat ketidakpastian seputar perkiraan terhadap pertumbuhan, mengingat Brexit merupakan sebuah peristiwa bersejarah.

Cassidy juga mengatakan bahwa ada ketidakpastian secara substansial mengenai bagaimana ekonomi akan melakukan penyesuaian terhadap seberapa banyak dan seberapa cepat aliran perdagangan akan mendapatkan pengaruh dari pemberlakukan tarif oleh WTO dan apa yang akan menjadi skala gangguan bagi logistik dan jaringan pasokan bagaimana pasar keuangan dan nilai tukar akan bereaksi terhadap kondisi tersebut.(WD)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *