ESANDAR – Tingkat logam mulia dunia di pasar spot melemah dalam dua hari beruntun sejak Senin (19/9/19) kemarin, setelah pasar moneter global mulai kondusif. Hal ini tercermin dari bursa saham global yang terus menghijau. Namun daya tarik logam mulia dalam jangka menengah belum akan pudar.

Meredanya isu Trade War dan perang mata uang, dan resesi memang membuat daya tarik logam mulia sebagai aset aset surgawi menjadi berkurang, kalah bersaing dari yields aset investasi di pasar finansial.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menunda kenaikan bea impor produk-produk dari China, bahkan beberapa produk batal dikenakan tingkat pajak. Selain itu pada hari Jumat lalu, Presiden Donald Trump memberikan sinyal positif terkait pembicaraan dagang dengan China.

“Sepengetahuan saya, pertemuan pada September masih terjadwal. Namun yang lebih penting dari pertemuan itu, kami (AS dan China) terus berkomunikasi melalui telepon. Pembicaraan kami sangat produktif,” ungkap Trump, dikutip dari Reuters.

Keinginan akan adanya kesepakatan dagang antara dua negara kembali muncul, apalagi China sudah tidak lagi mendevaluasi level tukar yuan secara signifikan. Kegugupan akan perang mata uang juga menjadi mereda.

Selanjutnya, isu resesi di AS yang sempat muncul pada pekan lalu juga perlahan sirna setelah yield treasury (Obligasi) AS tenor 2 tahun dengan tenor 10 tahun sudah tidak lagi mengalami inversi.

Inversi merupakan keadaan di mana yield atau yields treasury tenor pendek lebih puncak daripada tenor panjang. Dalam situasi normal, yield treasury tenor pendek seharusnya lebih lembah.

Inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih puncak ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi.

Namun yang patut diingat, semua isu di atas bersifat sangat dinamis, Presiden Trump sering mengubah sikapnya, China bisa saja kembali mendevaluasi yuan, dan isu resesi bisa jadi kembali muncul jika isu Trade War dan perang mata uang kembali memanas, pasar sebenarnya masih penuh ketidakpastian.

Satu hal yang pasti, prediksi kebijakan keuangan global saat ini adalah longgar, entah itu dengan penurunan interest rate, atau pemberian stimulus keuangan.

Kebijakan keuangan yang longgar tersebut akan menguntungkan bagi logam mulia dalam jangka panjang. Namun, jika melihat pergerakan logam mulia sepanjang bulan Agustus bullion ini telah naik lebih dari US$ 100, sehingga pelemahan dalam dua hari terakhir terlihat masih dalam wajar.

Dampak kenaikan tajam kurang dari satu bulan tersebut, logam mulia berpotensi masuk ke fase sideways atau bergerak dalam rentang perdagangan tertentu.

Logam mulia kemungkinan mendapat momentum pergerakan dari pertemuan Jackson Hole di AS mulai Kamis nanti, di mana pimpinan bank sentral dari berbagai negara akan berkumpul, dan bisa jadi memberikan proyeksi kebijakan moneternya.

Pergerakan suatu instrumen di pasar moneter ada tiga, yakni bullish (tendensi naik), bearish (tendensi turun), dan sideways (bergerak dalam rentang tertentu)

Logam mulia sebenarnya telah masuk pada tendensi naik atau bullish semenjak menembus ke atas posisi US$ 1.375/troy ons, dan diperkuat lagi saat menembus posisi US$ 1.433 (posisi tinggi Agustus 2013).

Namun setiap kenaikan tentunya akan ada koreksi, dan jika tingkat bolak balik pada rentang tertentu, maka akan menjadi tendensi sideways.

Tingkat tinggi yang disentuh bulan ini US$ 1.534 menjadi batas atas (resisten) jika tingkat logam mulia masuk dalam tendensi sideways. Sementara batas bawah (support) berada di kisaran US$ 1.433.

Selama tidak menembus ke atas US$ 1.534, maka bisa dipastikan logam mulia sudah masuk tendensi sideways, dengan potensi terkoreksi turun menuju US$ 1.433. Berlanjutnya tendensi bullish bagi logam mulia baru terkonfirmasi kembali jika sudah melewati resisten US$ 1.534.

Secara teknikal, melihat grafik mingguan, logam mulia bergerak di atas rerata pergerakan 50 minggu (Moving Average/MA 50) garis ungu, MA 100 (garis hijau) dan MA 200 (garis biru).

Indikator rerata pergerakan konvergen dan divergen (MACD) bergerak naik dan berada di wilayah positif, memberikan indikasi bullish bagi logam mulia.
Melihat indikator tersebut, logam mulia masih berpeluang menguat lagi dalam jangka menengah, target kenaikan terdekat ke area US$ 1.569.

Secara teknikal logam mulia sebenarnya masih berpeluang kembali menguat dan tentunya masih menarik untuk investasi.

Tingkat logam mulia dunia merupakan salah satu acuan tingkat logam mulia Antam. Kenaikan tingkat logam mulia dunia cenderung diikuti logam mulia Antam. Sebaliknya jika tingkat logam mulia dunia turun, logam mulia Antam juga akan ikut turun sehingga peluang kenaikan tingkat logam mulia dunia dalam jangka menengah masih berpeluang mendorong tingkat logam mulia Antam mencetak rekor tinggi lagi.

Namun melihat pergerakan logam mulia saat ini tentunya tidak bisa dari teknikal saja, faktor fundamental juga perlu diperhatikan.

Fundamental untuk logam mulia dalam jangka menengah masih mendukung kenaikan, tetapi semua itu bisa berubah jika AS-China mencapai kesepakatan dagang, tidak ada lagi perang mata uang, dan pertumbuhan ekonomi global meningkat yang membuat bank sentral global tidak agresif dalam melonggarkan kebijakan keuangan.

Kondisi-kondisi itu akan memudarkan kilau logam mulia sebagai aset aset surgawi dan lindung level terhadap inflasi, sehingga logam mulia daya tarik logam mulia akan semakin berkurang, dan harganya akan kembali melemah. Namun hingga September, belum terlihat ada peluang pemburukan situasi ekonomi dunia.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *