Boris Johnson Akan Mengajukan Proposal Terakhir Kepada Brussels

Boris Johnson Akan Mengajukan Proposal Terakhir Kepada Brussels

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson akan mengajukan penawaran terakhirnya ke pihak Uni Eropa, seraya menjelaskan bahwa jika Brussels tidak menanggapi proposal tersebut, maka dipastikan Inggris tidak akan mau bernegosiasi lebih lanjut dan akan tetap keluar dari Uni Eropa pada akhir bulan ini, dengan atau tanpa kesepakatan.

Hal ini disampaikan Johnson saat berpidato di konferensi tahunan para pejabat pemerintahan konservatif, sembari menyampaikan bahwa dirinya tetap berpegang teguh terhadap garis kebijakan Brexit-nya dan menawarkan kepada Partai konservatif rincian pertama mengenai apa yang dia sebut sebagai “kompromi yang adil dan masuk akal”.

Menjelang batas waktu pelaksanaan Brexit yang hanya kurang dari sebulan lagi, timbul ketidakpastian mengenai masa depan Brexit, pasar perdagangan Inggris-UE, serta kebijakan luar negeri Inggris, meskipun itu hanya satu kesepakatan diantara keduanya.

Pasca menegaskan bahwa Inggris akan tetap meninggalkan Uni Eropa, apapun yang terjadi, Johnson tetap berupaya memperlancar keluarnya Inggris dari Uni Eropa, sekaligus untuk menghindari Hard Brexit dengan tetap mengirim proposal kesepakatan yang memberikan manfaat bagi keduanya.

Dalam pidatonya beliau mengeluhkan bahwa batas waktu 31 Oktober akan tetap terpenuhi, namun parlemen Inggris dinilai telah menghalangi upayanya mengesahkan undag-undang yang mengharuskan perdana menteri untuk meminta penundaan Brexit jika dirinya gagal mendapatkan kesepakatan yang akan diterima pada pertemuan puncak negara-negara Uni Eropa pada 17 Oktober mendatang.

Sebelumnya Uni Eropa telah berulang kali meminta Inggris untuk mengajukan proposal yang bersifat “legal dan operasional” demi perubahan yang diinginkan oleh Boris Johnson terhadap kesepakatan sebelumnya yang telah dinegosiasikan oleh keduanya pada tahun lalu. Johnson sebelum ini telah menuntut perubahan di Withdrawal Agreement, terutama terhadap aturan baru dengan Uni Eropa terkait perbatasan antara wilayah Irlandia Utara yang bergabung ke Inggris dengan Irlandia yang memilih untuk tetap di Uni Eropa.

Akan tetapi sejak Boris Johnson menduduki kursi Perdana Menteri menggantikan Theresa May, melalui pembicaraan selama berminggu-minggu, pada akhirnya ada sedikit celah untuk mengakhiri pertikaian Brexit, yang mana perdana menteri akan mengajukan proposal baru sebagai langkah terakhir.

Surat kabar Telegraph mengutip kabar dari Brussels bahwasanya Inggris menyarankan rencana untuk ikut keluar dari Uni Eropa kepada Irlandia Utara, dengan otonomi hubungan khusus dengan Uni Eropa hingga 2025 mendatang, setelah periode tersebut Belfast boleh mengambil keputusan apakah akan tetap selaras dengan kawasan UE atau kembali mengikuti aturan dari kerajaan Inggris.

Disebutkan pula bahwa proposal tersebut ditujukan untuk mengganti kebijakan backstop, kebijakan asuransi untuk mencegah permasalahan perbatasan dengan pulau Irlandia, yang selama ini menjadi halangan terbesar untuk mencapai kesepakatan dengan Brussels.

Setidaknya Johnson telah meningkatkan pertaruhannya dengan menekankan kebijakan Brexit yang keras, sekaligus mencuri suara dukungan dari partai-partai seperti Partai Brexit yang dipimpin oleh Nigel Farage yang pro kepada Uni Eropa, pada pemilihan umum yang diperkirakan akan diadakan sebelum akhir tahun.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini