BoK Mempertahankan Suku Bunga Tidak Berubah

BoK Mempertahankan Suku Bunga Tidak Berubah
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Setelah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun di bulan Agustus lalu, pada pertemuan kebijakan bulan ini Bank of Korea memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga tidak berubah, akibat kebangkitan kasus Covid-19 yang mengaburkan ekonomi negara tersebut dalam jangka pendek.

Bank of Korea (BOK) mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah pada 0.75%, seperti yang diharapkan oleh 29 dari 31 analis yang disurvei oleh Reuters, dan mereka berusaha untuk menjaga laju pemulihan ekonomi Korea Selatan tetap pada jalurnya, sembari berupaya menahan lonjakan hutang sektor swasta, pasar prosperti yang berada dalam kondisi overheat serta laju inflasi tetap di atas targetnya.

Negara ekonomi terbesar keempat di Asia tersebut mencatat pertumbuhan 6.0% yang telah di revisi di kuartal kedua lalu, dari keterpurukan yang diakibatkan oleh pandemi virus corona di tahun lalu, sehingga tercatat sebagai ekspansi tahunan tercepatnya dalam satu dekade terakhir menyusul dukungan dari ekspor produk chip dan produk petrokimia yang berada dalam kondisi yang kuat.

Namun demikian lonjakan dalam kasus infeksi harian dari virus Covid-19 yang terjadi baru-baru ini, hingga mencapai lebih dari 3 ribu kasus dalam beberapa hari, dinilai telah menjadi penyebab memudarnya prospek ekonomi Korea Selatan dalam beberapa bulan ke depan.

Rapat kebijakan moneter dari Bank of Korea ini menjadi rapat yang pertama kalinya bagi anggota dewan kebijakan yang baru, Park Ki-young yang bergabung dengan tujuh anggota dewan kebijakan BoK lainnya sejak pekan lalu.

Sebagian besar para analis dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh pihak Reuters telah memperkirakan bahwa Bank of Korea akan menaikkan suku bunganya di bulan November mendatang, yang mana kemudian akan kembali menaikkan sekitar 25 basis poin hingga mencapai kisaran 1.25% di akhir tahun 2022 mendatang, dimana dilapporkan bahwa inflasi konsumen tahunan telah mencapai 2.5% di bulan September, dan tetap di atas target 25 dari bank sentral dalam enam bulan secara beruntun.

Salah seorang ekonom di Capital Economics, Alex Holmes mengatakan bahwa Bank of Korea telah menjelaskan mengenai prioritas utama mereka yaitu untuk mengendalikan risiko keuangan di tengah melonjaknya harga rumah serta hutang rumah tangga.

Lebih lanjut Holmes menyampaikan bahwa konferensi pers yang akan digelar untuk mendengar pernyataan dari Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol, yang mana pihak BoK kemungkinan akan memberikan sinyal kuat terkait maksud mereka untuk menaikkan suku bunga di bulan November, dengan kemungkinan lebih banyak kenaikan di tahun depan, akan menjadi fokus pasar untuk saat ini.

Pada bulan Agustus lalu Bank of Korea menjadi bank sentral pertama di Asia yang mulai menaikkan suku bunganya sejak terjadinya pandemi Covid-19, sehingga menempatkan mereka di depan para bank sentral dunia lainnya yang masih berusaha untuk menerapkan stimulus darurat.

Sementara itu Federal Reserve telah melontarkan isyarat bahwa pihaknya akan mulai memangkas kebijakan pembelian aset obligasinya dalam waktu secepatnya setelah bulan November mendatang, sedangkan Bank of England menyampaikan bahwa mereka akan mulai menaikkan suku bunganya sebelum akhir tahun ini.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas