BoJ Monetary Board Memperdebatkan Kelayakan Peningkatan Stimulus

BoJ Monetary Board Memperdebatkan Kelayakan Peningkatan Stimulus

Risalah rapat kebijakan Bank of Japan yang dirilis pagi tadi menunjukkan bahwa para anggota dewan bank sentral telah memperdebatkan kelayakan untuk meningkatkan stimulus di tinjauan kebijakan di bulan September, dengan sejumlah seruan untuk memulai gagasan yang dapat menambah dukungan moneternya.

Sejumlah anggota dewan kebijakan bank sentral memperingatkan perlunya lebih banyak perhatian terhadap potensi kerugian yang ditimbulkan oleh suku bunga negatif yang berkepanjangan seperti dampaknya terhadap keuntungan sektor perbankan.

Hal ini telah menggarisbawahi keretakan yang terjadi diantara sembilan anggota dewan kebijakan bank sentral Jepang. Sejumlah anggota dewan kebijakan mengatakan bahwa diperlukan pemeriksaan secara komprehensif terhadap kemungkinan bahwa profitabiltas lembaga keuangan yang akan mengalami penurunan lebih lanjut dan semakin banyak dari bank yang akan mengambil risiko yang berlebihan.

Pada pertemuan kebijakan di bulan September lalu, Bank of Japan tetap mempertahankan kebijakan stabil, namun mengisyaratkan kemungkinan adanya pelonggaran moneter jangka pendek dengan mengeluarkan peringatan yang lebih kuat terhadap risiko eksternal. Setidaknya hal ini akan menunda ekspansi stimulus terhadap tinjauan tingkat selanjutnya.

Meskipun mereka memutuskan untuk menjaga kebijakan tetap stabil, namun mayoritas anggota dewan menyuarakan keprihatinannya terhadap dampak dari ketegangan perdagangan AS-Cina serta menurunnya permintaan global.

Mengutip pernyataan seorang anggota dewan kebijakan BoJ, disebutkan bahwa ada risiko keterlambatan dalam pengambilan tindakan terhadap pertumbuhan luar negeri yang dapat merugikan ekonomi dan harga di Jepang. Untuk itu Bank of Japan harus mulai memeriksa respon kebijakan yang diinginkan, dengan memperhatikan efek samping potensial.

Anggota lainnya juga mengatakan bahwa Bank of Japan harus mempertimbangkan semua langkah kebijakan yang mungkin tanpa adanya prasangka, karena ekonomi berpotensi kehilangan momentum untuk mencapai target inflasi 2% dari bank sentral.

Dalam risalah disebutkan pula bahwa seorang anggota dewan lainnya menyampaikan hal yang lebih eksplisit mengenai mekanisme pelonggaran moneter yang paling efektif. Disampaikan bahwa ada ruang yang relatif besar untuk adanya pelonggaran monter diantara imbal hasil di jangka pendek dan menengah dan kebijakan untuk menurunkan suku bunga jangka pendek dianggap tepat.

Dibawah kebijakan yang dijuluki “yield curve control”, Bank of japan berjanji untuk melakukan panduan terhadap suku bunga jangka pendek di minus 0.1% dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun di sekitar 0%.

Pencetakan uang dalam jumlah besar selama bertahun-tahun telah gagal memicu inflasi, memaksa bank sentral untuk mempertahankan stimulus besar-besaran meskipun ada kenaikan biaya, dan hal ini menjadi pukulan bagi lembaga keuangan akibat suku bunga yang mendekati nol persen.

Perlambatan pertumbuhan global dan ketegangan perdagangan, telah mengaburkan prospek ekonomi Jepang, sehingga menambah dilema bagi para pembuat kebijakan yang bergantung pada alat kebijakan yang semakin menipis.(

Deni Bahtera

Read Previous

Reuters Poll : PDB Jepang Diperkirakan Tumbuh 0.8%

Read Next

Credit Suisse : Pertumbuhan Jangka Panjang Cina Positif

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *