fbpx

BoJ Kemungkinan Akan Kembali Memangkas Prakiraan Ekonomi Jepang

BoJ Kemungkinan Akan Kembali Memangkas Prakiraan Ekonomi Jepang
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Bank sentral Jepang kemungkinan akan kembali menurunkan proyeksi ekonomi Jepang untuk bulan depan, akibat dampak besar dari pandemi Covid-19 terhadap laju ekonomi domestik dan global yang semakin jelas.

Pada awal pekan ini lembaga IMF mengatakan bahwa pihaknya telah melihat penyusutan yang terjadi terhadap ekonomi global hingga sebesar 4.9% di tahun ini, yang mana angka tersebut jauh lebih rendah dari penilaian mereka di bulan April, seiring pandemi virus yang menimbulkan resesi global yang lebih dalam serta laju pemulihan yang lebih lambat dari perkiraan.

Penilaian terhadap ekonomi global yang suram seiring kondisi darurat yang panjang di Jepang, dimana para anggota Bank of Japan perlu untuk mempertimbangkan prakiraan triwulanan saat melakukan pertemuan pada 14-15 Juli mendatang.

Penurunan perkiraan BOJ dengan sendirinya tidak mungkin mendorong tindakan pelonggaran lebih lanjut oleh bank, meskipun ekonom mengatakan kalkulus bisa berubah jika pasar juga menjadi lebih gelisah dan mata uang Yen tiba-tiba menguat.

Salah seorang ekonom senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, Hiroshi Miyazaki mengatakan bahwa Bank of Japan kemungkinan akan memangkas proyeksi mereka, namun hal tersebut tidak berarti keadaan akan menjadi lebih tenang seiring fokus mereka saat ini adalah pada pendanaan perusahaan dan pasar keuangan.

Pada pertemuan Juni lalu Bank of Japan memberi insyarat bahwa mereka bermaksud untuk mengamati dan memantau dampak dari program pinjamannya serta langkah-langkah untuk meredam pandemi Covid-19 lainnya yang bernilai hingga sekitar $1 triliun untuk saat ini.

IMF saat ini melihat ekonomi Jepang mengalami kontraksi lebih dari perkiraan pertama hingga 5.8% di tahun ini, lebih besar dari pukulan saat terjadinya krisis keuangan global.

BOJ mengambil langkah tidak biasa untuk tidak mengungkapkan angka median dalam kisaran proyeksi pada bulan April, sebuah keputusan yang menurut Gubernur Haruhiko Kuroda mencerminkan tingginya tingkat ketidakpastian atas perkiraan tersebut.

Ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan produk domestik bruto menyusut 22% secara tahunan di kuartal ini, dan mencatat penyusutan yang terbesar dalam lebih dari enam dekade terakhirnya.

Selain program pinjaman BOJ dan pembelian aset, administrasi Abe telah mengumpulkan ¥ 233,9 triliun (sekitar $ 2,2 triliun) dalam langkah-langkah untuk meredam pandemi virus.

Meskipun paket tersebut telah dijelaskan oleh Abe sebagai paket stimulus terbesar di dunia dengan lebih dari 40% dari produk domestik bruto, namun distribusinya relatif lambat sejauh ini.(

Gulir ke Atas