• 27 Februari 2020

Barnier : UE Tidak Akan Kompromi Terkait Integritas Pasar Tunggal

Ketua negosiator Brexit Uni Eropa Michael Barmier menegaskan bahwa pihak Brussels tidak akan pernah mau berkompromi menyangkut integritas pasar tunggal Eropa saat menegosiasikan kesepakatan perdagangan dengan Inggris. Dalam kesempatan berbicara di depan mahasiswa di Queen’s University Belfast semalam,

Barnier menyampaikan bahwa pihak Uni Eropa tidak menginginkan adanya kompromi terhadap pasar tunggal Eropa, karena ini merupakan aset utama Uni Eropa, sehingga tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi dalam situasi apapun.

Pasar tunggal Uni Eropa berupaya tetap menjamin “empat kebebasan” yaitu aktifitas barang, modal, jasa dan tenaga kerja di blok tersebut. Dengan populasi kolektif lebih dari 500 juta orang dan konsumen, nilai keanggotaan pasar tunggal serta pergerakan barang dan jasa yang bersifat bebas dan tidak terlalu terikat aturan menjadi anugrah bagi aktifitas bisnis Eropa.

Pada saat Inggris secara resmi keluar dari Uni Eropa pada akhir bulan ini, namun Inggris akan tetap menjadi anggota pasar tunggal Eropa selama masa transisi sebelas bulan hingga akhir tahun 2020 ini.

Selama waktu itu, Inggris dan Uni Eropa akan mencoba untuk mencapai kesepakatan perdagangan meskipun kerangka waktu yang singkat dinilai sebagai suatu yang ambisius dan Brussels telah memperingatkan kepada London bahwa hubungan perdagangan saat transisi tidak akan sama pasca Brexit. Saat wawancara dengan BBC semalam,

Perdana Menteri Irlandia, Leo Varadkar meyakini bahwa Uni Eropa akan maju dengan kekuatan penuh dalam pembicaraan perdagangan pasca Brexit dengan Inggris, meskipun dirinya sadar bahwa sulit untuk mencapai kesepakatan tersebut.

Sementara itu Perdana menteri Inggris Boris Johnson masih optimis seraya mengatakan bahwa Inggris mampu menyelesaikan kesepakatan dalam tenggat waktu yang sudah mereka tentukan sendiri di akhir tahun ini.

Lebih jauh Barnier mengatakan bahwa meninggalkan Uni Eropa, pasar tunggal dan serikat pabean merupakan sebuah pilihan Inggris, yang tentunya memiliki konsekuensinya sendiri, dan apa yang terlihat di tahun lalu adalah banyak konsekuensi Uni Eropa yang “diremehkan” oleh pihak London sehingga beliau menegaskan bahwa semua pihak harus menghadapi kenyataan dan bersikap realistis.

Uni Eropa sangat khawatir untuk memastikan apa yang disebutnya sebagai “bidang permainan yang adil” ketika berbicara mengenai hak dan kewajiban Inggris. Brussels mencemaskan bahwa Inggris akan terfokus pasa kebijakan subsidi bisnis yang lebih aktif, rezim pajak kompetitif serta aturan mengenai persaingan.

Di saat AS berkeinginan untuk mempertahankan perdagangan barang dan jasa tanpa adanya “gesekan” dengan Uni Eropa, Barnier menilai bahwa tidak akan ada kemungkinan perdagangan tanpa terjadinya gesekan antara Uni Eropa dan Inggris pasca Brexit, akan tetapi beliau yakin pihaknya akan memiliki kendali terhadap perdagangan barang, mengingat tugas dan tanggung jawab mereka untuk melindungi konsumen dan sektor bisnis Eropa.(