• 24 Januari 2020

Bank Sentral Swedia Menaikkan Suku Bunga Ke Nol Persen

Bank sentral Swedia telah menaikkan suku bunga repo acuannya sebesar 25 basis poin menjadi nol persen, seperti yang diharapkan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi perlambatan laju ekonomi serta ketidakpastian global guna mengakhiri suku bunga negatif yang telah berjalan selama kurang lebih lima tahun terakhir.

Kenaikan suku bunga dari minus 0.25% ini menunjukkan bahwa Riksbank menjadi bank sentral pertama yang kembali ke level sebelumnya yang dianggap sebagai pondasi untuk suku bunga. Dalam sebuah pernyataannya pasca merilis kebijakan suku bunganya,

Riksbank menilai bahwa kondisi saat ini bagus untuk laju inflasi supaya tetap berada di dekat level target kedepannya. Dengan demikian hal ini sejalan dengan penilaian dari dewan eksekutif bank sentral Swedia pada bulan Oktober lalu, yang telah memutuskan untuk menaikkan suku bunga repo dari minus 0.25% menjadi nol persen.

Dalam hal ini mereka juga menyampaikan seperti sebelumnya bahwa pihaknya telah memperkirakan suku bunga repo akan tetap tidak mengalami perubahan hingga 2021 mendatang. Hasil ini juga sejalan dengan hampir semua analis yang disruvei oleh Reuters, yang menyatakan kenaikan suku bunga bank sentral Swedia dari kisaran minusnya dan hanya satu analis yang memperkirakan suku bunga tetap tidak berubah.

Dengan demikian mata uang Crown Swedia bergerak sedikit lebih kuat terhadap mata uang Euro pasca keputusan tersebut.

Sebagai bank sentral tertua di dunia, kebijakan untuk menurunkan suku bunga menjadi minus0.10% di tahun 2015 lalu, dikarenakan adanya kekhawatiran bahwa krisis di Eurozone akan memberikan pukulan terhadap harga yang sudah lemah dan dinilai mengarah kepada deflasi spiral seperti yang terjadi di Jepang.

Namun hal tersebut sepertinya dipaksa untuk melangkah semakin jauh, dengan penurunan suku bunga hingga minus 0.50% di tahun 2016 sebelum dijalankannya kebijakan ultra longgar guna mendapatkan daya tarik pasar, sehingga melemahkan nilai tukar Crown Swedia, mendorong harga impor serta meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang sangat bergantung terhadap ekspor.

Dari sekian banyak analis dan pengamat, hanya sedikit yang berpendapat bahwa kebijakan tersebut terlalu ketat, akan tetapi banyak pihak yang mempertanyakan waktu kenaikan suku bunga seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Akan tetapi pihak Riksbank merasa khawatir bahwa tingkat suku bunga negatif dalam waktu yang lama, akan merusak perekonomian dengan cara lain, meningkatkan harga aset dan hutang, serta meningkatkan risiko terhadap krisis keuangan di masa yang akan datang.(