Aussie Menguat Seiring Dukungan Data Pertumbuhan Ekonomi Cina

Mata uang Aussie terpantau menguat saat memasuki sesi pertengahan perdagangan waktu Asia, seiring data ekonomi Cina yang lebih kuat dari perkiraan, yang dinilai oleh sejumlah analis sebagai sinyal adanya langkah-langkah dari Beijing untuk menghidupkan kembali jalur pengeluaran di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Hingga berita ini dibuat, mata uang Aussie menguat 0.16% terhadap US Dollar, dan nampaknya secara teknikal masih mencoba untuk menguji kisaran dekat 0.7048. Dilaporkan bahwa output industri Cina selama bulan Juni mengalami lonjakan dari tingkat terendahnya dalam 17 tahun terakhir. Sementara untuk Gross Domestic Product Cina di kuartal kedua, dilaporkan mencatat jalur pertumbuhan 6.2%, lebih lemah dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

Ray Attrill, kepala strategi valas di National Australia Bank di Sydney, mengatakan bahwa di tengah data sektor kredit yang dirilis pada akhir pekan kemarin, program stimulus dari pemerintah Cina nampaknya semakin mengemuka. Selain itu data ekonomi dari Cina tersebut juga mampu mengangkat nilai tukar dari mata uang Dollar Selandia Baru yang menguat hingga 0.18% terhadap US Dollar.

Melemahnya Greenback diakibatkan juga oleh sentimen pasar yang memberikan tekanan terkait komentar dari Ketua The Fed, Jerome Powell serta Presiden Federal Reserve of Chicago, Charles Evans yang memberikan gambaran bahwa kebijakan pemotongan interest rate untuk saat ini dperlukan guna memberikan dorongan bagi jalur inflasi.

Namun demikian hasil survey terhadap sejumlah pakar ekonomi yang dilakukan oleh Reuters, menyebutkan bahwa jalur pertumbuhan ekonomi di negeri Kangguru tersebut nampaknya masih akan berada di bawah standar dalam dua tahun kedepan.

Dengan demikian sentimen negatif masih akan menyelimuti jalur pergerakan mata uang Aussie, menyusul dengan hasil survey tersebut, maka kemungkinan besar Reserve Bank of Australia tentunya akan mengambil sejumlah langkah-langkah guna menghindarkan ekonomi Australia dari ancaman resesi.

Salah satu langkah yang diperkirakan akan diambil oleh bank sentral adalah kembali menurunkan interest rate mereka guna mengangkat jalur permintaan domestik, serta memberikan dukungan bagi jalur pertumbuhan upah yang saat ini masih tumbuh dalam jalur terlemahnya.(WD)

Sumber: Topgrowth Futures, Reuters.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini