Aussie Menguat Oleh Data Ekonomi

Aussie Menguat Oleh Data Ekonomi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Berita EMAS – Nilai tukar dolar Australia menguat melawan rupiah pada perdagangan Kamis (4/6/2020) pagi. Rilis data ekonomi yang tak seburuk perkiraan membuat dolar Australia cukup kuat melawan rupiah yang sedang perkasa. 

Pada pukul 10:36 WIB, AU$ 1 setara Rp 9.763,5, dolar Australia menguat 0,44% di pasar spotmelansir data Refinitiv.

Kemarin, data pertumbuhan ekonomi (produk domestic bruto/PDB) Australia kuartal I-2020 yang dirilis pagi tadi menunjukkan kontraksi atau minus 0,3% quarter-on-quarter (QoQ).

Rilis tersebut masih lebih bagus dari prediksi kontraksi 0,4% di Forex Factory. Sementara jika dilihat secara tahunan atau year-on-year, PDB Australia tumbuh 1,4%.

Sementara pada hari ini, data penjualan ritel bulan April dilaporkan merosot 17,7%, sedikit lebih baik dari prediksi 17,9%. Kemudian penurunan surplus neraca dagang Australia juga tak sebesar prediksi. Surplus neraca dagang di bulan April tercatat sebesar AU$ 8,8 miliar, lebih baik ketimbang prediksi AU$ 7,5 miliar. 

Serangkaian data tersebut memberikan kemungkinan kemerosotan ekonomi Australia tidak akan seburuk yang diperkirakan, dan karantina wilayah (lockdown) yang sudah dilonggarkan bisa segera membangkitkan perekonomian. 

Rupiah sebenarnya hari ini cukup perkasa akibat derasnya aliran modal yang masuk ke Indonesia. Dolar Singapura saja dibuat hampir turun ke bawah Rp 10.000/US$.

Tetapi melawan dolar Australia, rupiah memang cukup kesulitan. Sebabnya kinerja buruk Mata Uang Kanguru ini di bulan Maret lalu. Seperti diketahui, pada bulan Maret lalu rupiah mengalami aksi jual masif, melemah tajam melawan dolar AS, Singapura, dan mata uang lainnya. Dolar Singapura bahkan menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah Rp 11.574,53/SG$

Tetapi, dolar Australia justru ambles melawan rupiah, menyentuh level terelemah sejak September 2011 Rp 8.479,24 pada pertengahan Maret lalu. 

Amblesnya dolar Australia kala itu terjadi akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang memukul perekonomian luar dalam. Dari luar, China yang merupakan mitra dagang utama Australia menerapkan kebijakan lockdown akibatnya permintaan impor produk Negeri Kanguru merosot tajam. 

Australia juga menerapkan kebijakan yang sama, perekonomian dalam negeri pun tidak bisa diandalkan. Akibatnya, bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) memangkas suku bunga hingga ke rekor terendah 0,25%, dan untuk pertama kalinya menerapkan kebijakan pembelian aset (quantitative easing/QE). 

Kini perekonomian Australia perlahan mulai bangkit, lockdown sudah mulai dibuka sejak secara perlahan dalam 2 pekan terakhir, dan dolar Australia pun “balas dendam”.

Gulir ke Atas