Sebuah survei yang dilakukan oleh Maeil Business Newspaper memaparkan bahwa 10 analis sepakat memperkirakan dengan suara bulat bahwa Bank of Korea akan menyimpan amunisi kebijakannya dan memilih untuk tidak merubah kebijakan moneternya saat ini dalam pertemuan kebijakan berikutnya, guna mempelajari terlebih dahulu perkembangan gejolak di lingkungan perdagangan ekternalnya.

Dalam survey itu disebutkan bahwa para analis meramalkan dengan suara bulat bahwa bank sentral Korea Selatan akan tetap bertahan dengan kebijakan interest rate 1.50% di hari Jumat mendatang, menyusul pemotongan sebesar 25 basis poin pada pertemuan sebelumnya yang menghadirkan keterkejutan di pasar pada bulan lalu.

Akan tetapi mereka melihat adanya potensi pemotongan lebih lanjut di pertemuan Oktober atau di November mendatang, bahkan bisa saja dalam dua pertemuan tersebut Bank of Korea akan melanjutkan siklus pemotongan suku bunganya, tergantung terhadap perkembangan ekonomi di sektor perdagangan.

Park Tae-geun selaku analis di Samsung Securities juga mengharapkan bahwa bank sentral akan memilih menunggu dengan tenang sembari memantau perkembangan, karena pemangkasan interest rate di tengah volatilitas pasar ekstrem bisa mendatangkan risiko sekaligus memicu arus modal keluar.

Hanya ada dua contoh pemangkasan interest rate berturut-turut di Korea. Salah satunya pada tahun 2001, ketika BOK memotong interest rate pinjaman empat kali berturut-turut setelah meledaknya gelembung dot-com dan serangan teroris 9/11. Yang lainnya adalah selama krisis finansial global 2008 dan 2009.

Berlanjutnya pemotongan interest rate akan membawa interest rate acuan berada di titik terendahnya sepanjang masa di 1.25%, yang mampu menyisakan sedikit ruang bagi bank sentral untuk melakukan manuver di tengah potensi terjadinya headwinds dalam rute pertumbuhan ekonominya.

Ketidakpastian eksternal dengan pandangan pasar yang bergam terhadap potensi resesi, cenderung menjadi pertimbangan bagi bank sentral dalam menerapkan kebijakan moneternya. Terkait akan hal ini, Lee Geun-tae selaku peneliti senior di LG Economic Research Institute, mengatakan bahwa bank sentral diharapkan untuk lebih memperhatikan pergerakan ekonomi saat ini dibandingkan sibuk berkutat dengan langkah interest rate.

Sebelumnya Ketua bank sentral AS Jerome Powell menandakan FED akan membuat penurunan tambahan segera setelah memberikan penurunan pertama untuk membalikkan kursus pengetatan untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Namun Powell enggan untuk menyampaikan waktu yang tepat bagi berlakunya kebijakan tersebut, menyusul beban yang semakin besar dampak perang perdagangan AS-Cina yang semakin intensif.

Dengan demikian akan sulit bagi Bank of Korea untuk mengambil langkah di depan The Fed, menurut pakar ekonomi di Woori Bank, Min Kyung-won. Sedangkan Kim Yeong-ik, profesor ekonomi di Universitas Sogang, mengatakan pasar telah mempertimbangkan outlook dua penurunan tambahan, dengan yields treasury tiga tahun mendekati 1.0%.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *