Aktifitas Sektor Bisnis Eurozone Mengalami Stagnansi Di Bulan Oktober

Aktifitas Sektor Bisnis Eurozone Mengalami Stagnansi Di Bulan Oktober

Sebuah survei dari Markit menunjukkan bahwa aktifitas bisnis di kawasan Eurozone mengalami stagnansi di bulan Oktober akibat dari laju permintaan yang melemah.

IHS Markit’s flash composite PMI, yang menjadi panduan untuk mengukur kesehatan ekonomi, berada di angka 50.2 yang sedikit lebih tinggi dari pembacaan terakhir di 50.1 pada lebih dari enam tahun lalu. Sektor manufaktur yang sangat bergantung pada ekspor Jerman, tetap berkontraksi di bulan Oktober, sehingga menunjukkan perlambatan di negara ekonomi terbesar Eropa pada periode kuartal ketiga, yang berpotensi semakin melebar menjelang akhir tahun ini.

Lembaga IHS Markit mengatakan bahwa PMI di kawasan Euro memberikan indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi hanya berada di bawah 0.1% di kuartal ini, masih lebih rendah dari perkiraan 0.2% dalam jajak pendapat Reuters di pekan lalu. Dengan demikian ekonom di Morgan Stanley menilai bahwa arus data masih lemah dan belum memberi sinyal pertumbuhan yang meyakinkan dan jika hanya melihat hasil PMI maka pihaknya dapat memperkirakan stagnansi yang lebih luas di kuartal keempat tahun ini.

Sementara itu untuk data PMI di sektor jasa yang dominan di kawasan tersebut, dirilis di angka 51.8 dari 51.6 pada bulan September yang merupakan angka terendahnya sejak awal tahun ini, namun masih lebih rendah dari perkiraan 51.9 dari para ekonom sebelumnya.

Seiring gambaran dari hasil survei yang suram, optimisme di antara perusahaan jasa berada di titik terlemah sejak pertengahan 2013 lalu. Selain itu sektor produsen juga mengalami periode yang buruk di bulan Oktober serta aktifitas produksi yang mengalami kontraksi dalam sembilan bulan berturut-turut. Indeks output manufaktur, yang menjadi bagian dari PMI Komposit berada di angka 46.2, dari 46.1 di bulan sebelumnya.

Sementara itu ECB nampaknya sangat yakin untuk tidak melakukan perubahan kebijakannya, setelah enam pekan sebelumnya telah meluncurkan paket kebijakan termasuk pembelian aset baru senilai 20 milliar Euro setiap bulan, penurunan suku bunga serta janji untuk membuka kucuran dana tunai yang lebih besar jika memang diperlukan.

Dalam sebuah jajak pendapat dari Reuters pada pekan lalu menunjukkan bahwa mayoritas ekonom sebanyak 95% mengatakan bahwa paket stimulus terbaru tersebut tidak akan membantu membawa inflasi ke target 2% secara signifikan.

Pada bulan September lalu ECB telah memangks suku bunga simpanannya lebih dalam hingga ke wilayah negatif seraya menyampaikan bahwa mereka akan menghidupkan kembali program pembelian obligasi tanpa batas waktu untuk memangkas biaya pinjaman sekaligus memberikan rangsangan investasi dan pertumbuhan di Eurozone.

Pertemuan kebijakan dari bank sentral Eropa yang dilakukan pada hari ini waktu setempat, menjadi pertemuan terakhir bagi Presiden Mario Draghi yang akan habis masa jabatannya dan akan digantikan oleh Christine Lagarde.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini