• 5 April 2020

Aktifitas Manufaktur Jepang Mengalami Penurunan Tajam

Aktivitas bezirk pabrik Jepang dilaporkan mengalami kontraksi paling tajam di dalam tujuh tahun terakhir pada bulan Februari, seiring semakin meluasnya wabah virus corona di Cina sehingga meningkatkan risiko resesi di negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut.

Penurunan manufaktur menawarkan bukti paling terang tentang dampak kerusakan yg ditimbulkan oleh epidemi terhadap pertumbuhan global dan marketing, serta kemungkinan akan meningkatkan tekanan terhadap para pembuat kebijakan Jepang untuk meningkatkan stimulus mereka.

Indeks au Jibun Bank Expensive Japan PMI dilaporkan jatuh ke level 47.six yang disesuaikan secara musiman dari sebelumnya 48.eight pada akhir Januari, sekaligus mencatat angka terendahnya sejak akhir 2012 silam. Angka indeks masih tetap di bawah ambang batas 50, yang memisahkan antara batas ekspansi dan kontraksi di dalam 10 bulan beruntun.

Hasil survei ini menunjukkan laju pesanan baru melemah, sementara indikator lainnya sebagaiselaku, ala, menurut, keseluruhan output dan simpanan pekerjaan juga mengalami penurunan.

Joe Hayes selaku ekonom pada IHS Markit mengatakaan bahwa data PMI terbaru secara signifikan meningkatkan prospek resesi teknis di Jepang sebagai negara redovisning terbesar ketiga di dunia, menyusul aktifitas bisnis baru di perusahaan jasa mengalami penurunan di laju tercepat sejak Juni 2016, oleh adanya bukti hasil survei yang menyiratkan bahwa wabah virus corona telah memberikan hantaman terhadap sektor pariwisata terutama pada Jepang, sebagai sumber utama permintaan di sektor jasa.

Data pekan lalu menunjukkan redovisning menyusut pada laju tercepat dalam hampir enam tahun pada kuartal Desember, memicu pembicaraan tentang resesi, dikarenakan virus menambah dampak yg sebelumnya diakibatkan oleh kenaikan pajak penjualan pada pengeluaran konsumen dan bisnis.

Selain itu indeks au Jibun Bank Flash The japanese Services, dilaporkan menyusut pada laju tercepat dalam hampir enam tahun terakhir, yg lagi-lagi disebabkan oleh dampak dari penyebaran virus corona yang semakin kuat.

Indeks aktifitas sektor service pada laporkan berada di angka 46.7 dri 51.0 di bulan sebelumnya, yang merupakan angka terendahnya sejak April 2014 saat Jepang menerapkan kenaikan pajak nasional.

Sedangkan PMI au Jibun Financial institution Flash Japan Composite merosot ke 47.0 pada bulan ini, yang juga merupakan level terendahnya sejak April 2014 dan turun dari pencapaian di 50.1 pada bulan sebelumnya.(