Aktifitas Bisnis AS Kembali Mengalami Kontraksi, 5 Bulan Beruntun

Aktifitas Bisnis AS Kembali Mengalami Kontraksi, 5 Bulan Beruntun
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

JAKARTA – Aktivitas bisnis AS mengalami kontraksi untuk lima bulan berturut-turut pada bulan Juni, meski laju penurunan mereda. Hasil ini mendukung pandangan bahwa resesi yang disebabkan oleh krisis COVID-19 hampir berakhir.

Perusahaan data IHS Markit mengatakan pada hari Selasa (23/06/2020)
bahwa data awal indek produksi gabungan AS, yang melacak sektor manufaktur dan
jasa, naik ke pembacaan 46,8 bulan lalu dari 37 pada bulan Mei. Meski naik,
namun masih di bawah angka 50 yang menunjukkan bahwa kondisinya masih mengalami
kontraksi. Ekonomi tergelincir ke dalam resesi pada bulan Februari.

Peningkatan bulan ini datang karena bisnis dibuka kembali
setelah ditutup pada pertengahan Maret untuk mengendalikan penyebaran penyakit
pernapasan. Namun, PHK berlanjut bulan ini dan bisnis membekukan perekrutan
untuk menangani permintaan yang lemah dan memangkas biaya.

Indeks Survei Pembelian Manajer IHS Markit untuk sektor jasa
naik menjadi 46,7 pada Juni dari 37,5 pada bulan sebelumnya. Ekonom yang
disurvei oleh Reuters memperkirakan pembacaan 46,0 pada bulan Juni untuk sektor
jasa, yang menyumbang sekitar dua pertiga dari perekonomian AS.

Di sektor manufaktur, kontraksi dalam aktivitas melambat
bulan ini, dengan IMP manufaktur flash meningkat menjadi 49,6 dari pembacaan
39,8 pada Mei. Para ekonom telah memperkirakan indeks untuk sektor ini, yang
menyumbang 11% dari ekonomi, naik menjadi 47,8 pada Juni.

Ukuran pesanan baru yang diterima pabrik meningkat menjadi
49,5 di bulan Juni dari 34,6 di bulan Mei.

Pelaku bisnis melaporkan bahwa ada kenaikan harga input
dan output
untuk pertama kalinya sejak Februari. Menurut IHS Markit, “perusahaan
menyatakan bahwa biaya input yang lebih tinggi dari pemasok karena masalah
rantai suplai terkait COVID-19 sebagian diteruskan kepada klien, dengan
beberapa menyebutkan bahwa kondisi permintaan sedemikian rupa sehingga diskon
tidak lagi diperlukan.”

Gulir ke Atas