Tingkat Pinjaman Bank Jepang Naik Di Bulan Maret

Tingkat Pinjaman Bank Jepang Naik Di Bulan Maret

Sebuah data yang dirilis oleh Bank of Japan menunjukkan bahwa tingkat pinjaman perbankan di Jepang selama bulan Maret mencatat kenaikan 6.3% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, seiring sektor restoran dan hotel mencari lebih banyak pinjaman untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19.

Selain itu jumlah total deposito yang dipegang oleh pihak perbankan juga mencatat kenaikan 9.9% di bulan Maret, seiring rumah tangga yang terus menambah jumlah tabungan mereka, dibandingkan dihabiskan di tengah ketidakpastian terhadap dampak pandemi berkepanjangan saat ini.

Tingkat pinjaman yang dimiliki oleh empat kategori utama bank di Jepang, termasuk “shinkin” atau credit unions, telah mencatat rekor baru di kisaran 579,995 triliun Yen ($ 5.29 triliun), yang mana total pinjaman di bulan Februari meningkat 6.2%.

Salah seorang pejabat Bank of Japan mengatakan bahwa sosialisasi skema baru yang menawarkan insentif kepada pihak perbankan untuk menyalurkan lebih banyak dana ke perusahaan yang dilanda pandemi, nampaknya belum memberikan dampak besar terhadap laju pinjaman bank.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa pihaknya kemungkinan akan melihat dampaknya yang muncul ke depan, dan berharap bahwa skema tersebut akan membantu memperlancar perantara keuangan.

Pada pertemuan kebijakan di bulan Maret, BOJ mengadopsi skema pembayaran bunga baru untuk lembaga keuangan yang memanfaatkan kas untuk meningkatkan pinjaman.

Sementara itu data lainnya menunjukkan bahwa harga grosir di Jepang mencatat kenaikan tahunan pertamanya dalam lebih dari setahun terakhir di bulan Maret, sehingga menjadi tanda bahwa kenaikan biaya komoditas telah menekan margin perusahaan sekaligus menambah tekanan inflasi ke ekonomi Jepang.

Meski demikian para analis memperkirakan bahwa tekanan seperti itu akan tetap lebih rendah di Jepang dibandingkan tekanan inflasi terhadap ekonomi AS, dikarenakan peluncuran vaksin yang lambat dalam memerangi pandemi virus corona terlihat membebani laju konsumsi domestik di Jepang.

Corporate goods price index (CGPI) atau indeks harga barang perusahaan yang mengukur harga yang dikenakan perusahaan satu sama lain untuk produk barang dan jasa, mencatat kenaikan 1.0% di bulan Maret dari periode yang sama setahun sebelumnya, yang merupakan kenaikan pertamanya dalam 13 bulan terakhir.

Lonjakan ini merupakan laju tercepatnya sejak Januari 2020 lalu, yang mampu melebihi perkiraan kenaikan rata-rata pasar di angka 0.5%, menyusul penurunan 0.6% di bulan Februari sebelumnya, sedangkan di tingkat bulanan harga grosir melonjak 0.8% di bulan Maret yang menandai kenaikan terbesar sejak Oktober 2019.

Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh lonjakan harga produk barang logam non-besi sebesar 29% serta kenaikan 9.8% dari produk minyak dan batubara, yang mana semuanya menunjukkan rebound permintaan global untuk komoditas yang mendorong kenaikan biaya bagi perusahan-perusahaan di Jepang.

Shigeru Shimizu selaku kepala divisi BOJ yang mengawasi pergerakan harga, mengatakan bahwa peningkatan ini sebagian besar didorong oleh laju pemulihan ekonomi AS dan China, yang mendorong harga komoditas global dibandingkan rebound dalam permintaan domestik, namun masih terlalu dini untuk mengatakan tingkat harga telah sepenuhnya kembali ke level sebelum pandemi.

Diketahui bahwa laju ekonomi Jepang telah bangkit dari pukulan awal pandemi berkat laju ekspor yang kuat, akan tetapi para analis memperkirakan bahwa laju pemulihan di berbagai sektor akan tetap melaju secara moderat, seiring lonjakan infeksi baru yang telah mengaburkan prospek permintaan domestik.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas