RICS : Indeks Harga Rumah Inggris Naik

RICS : Indeks Harga Rumah Inggris Naik

Seiring para pembeli rumah yang berpacu dengan waktu hingga batas akhir kebijakan keringanan pajak pada akhir bulan Juni ini serta ditambah kurangnya pasokan properti di pasar perumahan Inggris, maka hal ini telah mendorong indeks harga rumah di negara tersebut naik ke level tertingginya sejak 1988 pada bulan Mei lalu.

Lembaga Royal Institution of Chartered Surveyors telah merilis indeks harga rumah dari hasil survei mereka, yang mencerminkan proporsi surveyor yang melaporkan kenaikan harga, yang mencatat kenaikan di bulan keempatnya menjadi 83 dari 76 di bulan April sebelumnya.

Terkait rilisan tersebut, Simon Rubinsohn selaku kepala ekonom di RICS mengemukakan bahwa dengan kinerja ekonomi yang lebih baik dari yang diharapkan, serta biaya yang masih berada di level terendahnya, maka pendorong utama bagi laju permintaan terhadap rumah akan tetap ada, bahkan di saat berakhirnya kebijakan keringanan pajak pembelian rumah, dan yang lebih menantang dari semua adalah pertanyaan mengenai pasokan rumah, yang menjadi tema yang kuat dari para responden dalam survei.

Seperti halnya di banyak negara lainnya, permintaan terhadap perumahan di Inggris telah mengalami lonjakan selama pandemi virus corona, yang menciptakan kondisi peningkatan aktifitas kerja dari rumah serta lonjakan permintaan terhadap properti dengan ukuran yang lebih besar.

Pihak RICS sendiri mengatakan bahwa ketidaksesuaian antara meningkatnya permintaan dari para pembeli baru serta penurunan instruksi baru dari pihak penjual, telah mencatat menjadi yang terbesar sejak November 2013 lalu.

Namun demikian masih terdapat sejumlah tanda-tanda bahwa akan ada lebih banyak properti yang akan masuk ke pasar, seiring meningkatnya penilaian serta ekspektasi penjualan dalam 12 bulan yang menunjukkan grafik yang cenderung stabil.

Pada tahun lalu Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak telah memberikan kebebasan dari pajak bea materai senilai 500 ribu Poundsterling ($ 707,500) untuk pertama kalinya dari pembelian properti di Inggris atau di Irlandia Utara, sebagai upaya meredam dampak Covid-19 terhadap perekonomian Inggris.

Selain itu pada bulan Maret lalu Sunak juga telah memperpanjang insentif tersebut hingga akhir bulan Juni ini, yang mana setelahnya beliau akan memberlakukan tunjangan bebas pajak senilai 250 ribu poundsterling hingga akhir bulan September mendatang.

Kepala Ekonom di Bank of England Andy Haldane pada Selasa kemarin mengatakan bahwa pasar perumahan Inggris tengah mengalami “overheat”, yang kemungkinan akan memperburuk ketidaksetaraan tingkat kekayaan di negara tersebut.

Sementara Dave Ramsden selaku Deputi Gubernur BoE, mengatakan bahwa ada risiko laju permintaan akan mendahului tingkat pasokan dan hal tersebut akan mengarah pada peningkatan tekanan inflasi secara keseluruhan.

Lebih lanjut Rubinsohn mengatakan bahwa langkah-langkah pemerintah untuk mempercepat pembangunan rumah tidak mampu meyakinkan industri perumahan terhadap anggapan bahwa kekurangan properti yang tersedia untuk dijual akan berkurang dalam waktu dekat, yang mana ekspektasi harga jual dan sewa akan mencapai level tertingginya sejak pertengahan dekade terakhir dalam waktu lima tahun kedepan.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas