Penjualan Ritel Inggris Mencatat Lonjakan

Penjualan Ritel Inggris Mencatat Lonjakan

Kenaikan laju pembelian terhadap produk pakaian baru saat dibukanya kembali aktifitas toko setelah mengalami penutupan selama berbulan-bulan, menjadi faktor utama melonjaknya penjualan ritel di Inggris untuk bulan April lalu.

Office for National Statistics melaporkan volume penjualan bulan April melonjak hingga sebesar 9.2% di tingkat tahunan, dua kali lipat dari perkiraan rata-rata kenaikan dalam jajak pendapat Reuters, setelah sebelumnya juga mencatat kenaikan 5.1% di bulan Maret, yang didukung oleh lonjakan hingga 70% dalam penjualan produk pakaian.

Dilaporkan pula bahwa volume penjualan mencatat 42.4% lebih tinggi dari periode yang sama di tahun sebelumnya, di saat ekonomi Inggris mengalami keruntuhan selama diberlakukannya kebijakan lockdown untuk pertama kalinya sebagai upaya meredam penyebaran virus corona.

Saat ini retail sales Inggris berada sekitar 10.6% di atas level yang tercatat di Februari 2020 lalu, sebelum pandemi melanda, meskipun banyak pihak pengecer yang menderita akibat kebijakan lockdown berulang yang mempercepat terjadinya peralihan ke sistem perdagangan online.

Seperti yang terjadi pada jaringan toserba Debenhams yang menutup toko terakhirnya di bulan ini, setelah berada di sektor ritel Inggris selama lebih dari 240 tahun melakukan aktifitas perdagangan, meskipun nama merek mereka telah dibeli secara resmi oleh pengecer online Boohoo.

Sejak terpaksa ditutup di awal Januari, pengecer seperti toko pakaian dan furnitur yang digolongkan pemerintah Inggris sebagai sektor yang tidak penting, tidak dapat membuka kembali aktifitas perdagangan mereka untuk para pembeli hingga 12 April lalu, dimana pangsa pasar belanja ritel online tercatat turun menjadi 30.0% di bulan April dari 34.7% di bulan Maret lalu, yang merupakan angka terendahnya sejak bulan Desember.

Sementara itu para pembuat kebijakan dari Bank of England terus mencermati penjualan ritel, sekaligus mengharapkan adanya lonjakan pengeluaran seiring sektor rumah tangga yang lebih kaya yang akan menghabiskan tabungan mereka selama berada dalam pembatasan aktifitas sosial.

Namun demikian pihak pengecer harus mampu bersaing dengan pub serta restoran yang baru dibuka kembali, guna mendapatkan bagian dari pendapatan mereka yang terbuang.

Sebuah survei sentimen konsumen yang telah berlangsung lama di Inggris dari lembaga Gfk, menunjukkan bahwa moral konsumen telah kembali ke level yang tercatat di bulan Maret 2020 lalu, sebelum ekonomi Inggris dihantam oleh pandemi Covid-19.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas