Minyak Menguat Didukung Data Impor China

Minyak Menguat Didukung Data Impor Cina
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Data impor China yang kuat telah memberikan dukungan bagi kenaikan harga minyak mentah, namun demikian nampaknya para pelaku pasar komoditi minyak telah mengabaikan ketegangan yang terjadi di Timur Tengah yang secara luas dinilai tidak menimbulkan gangguan terhadap laju pasokan minyak hingga sejauh ini.

Memasuki sesi perdagangan waktu Eropa hari ini, pergerakan minyak mentah berjangka jenis Brent Crude naik sekitar 25 sen atau 0.4%, sementara minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate menguat sebesar 0.2% atau sekitar 14 sen.

Sebelumnya dilaporkan bahwa laju ekspor China tumbuh dengan kecepatan tinggi di bulan Maret, sebagai salah satu pendukung laju pemulihan ekonomi China, menyusul permintaan global yang meningkat di tengah kemajuan program vaksinasi Covid-19 di seluruh dunia, sementara untuk impor mencatat lonjakan hingga ke level tertingginya dalam empat tahun terakhir.

Secara khusus untuk impor minyak mentah ke China tercatat mengalami kenaikan hingga 21% di bulan Maret dari dasar perbandingan yang rendah di tahun sebelumnya, yang mana diakibatkan oleh meningkatnya operasional fasilitas kilang minyak.

Selain itu dukungan terhadap kenaikan harga minyak ditopang pula oleh hasil jajak pendapat Reuters yang menilai bahwa stok minyak mentah AS yang diperkirakan akan mengalami penurunan di pekan lalu dalam tiga minggu berturut-turut, sementara persediaan minyak sulingan dan bensin kemungkinan akan mengalami pertumbuhan.

Akan tetapi lembaga Energy Information Administration pada hari Senin kemarin mengemukakan bahwa produksi minyak AS dari tujuh formasi shale oil utama, diperkirakan akan mencatat kenaikan dalam tiga bulan secara beruntun.

Gangguan yang terjadi di kawasan Timur Tengah bermula saat gerakan Houthi di Yaman yang berpihak pada Iran, mengatakan bahwa mereka telah meluncurkan 17 drone dan menembakkan dua rudal balistik ke sasaran di wilayah Arab Saudi, termasuki fasilitas milik Saudi Aramco di Jubail dan Jeddah, meskipun nampaknya tidak ada konfirmasi langsung akan hal ini dari para pejabat Arab Saudi.

Analis PVM dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa kenaikan ketegangan geopolitik hanya akan memiliki dampak bullish yang mencolok terhadap harga minyak jika dibarfengi dengan gangguan pasokan fisik yang sebenarnya.

Hambatan terhadap kenaikan harga minyak sepertinya akan timbul seiring dari lambatnya tingkat vaksinasi di Eropa dan antisipasi tambahan pasokan minyak dari Iran dalam beberapa bulan mendatang.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas