Minyak Memangkas Kenaikan Sesi Sebelumnya

Minyak Memangkas Kenaikan Sesi Sebelumnya

Seiring keputusan OPEC+ di pekan lalu yang menyetujui untuk mengurangi sejumlah kebijakan pengurangan produksi antara bulan Mei dan Juli, hal ini telah memberikan tekanan bagi harga minyak berjangka sehingga memangkas keuntungan yang diraih di perdagangan pekan lalu.

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent Crude untuk kontrak bulan Juni mencatat penurunan sebesar 33 sen atau 0.5%, sementara minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate untuk kontrak bulan Mei, terpantau turun sebanyak 25 sen atau sekitar 0.4% di sesi perdagangan waktu Asia pagi ini.

Kedua kontrak ditutup dengan mencatat kenaikan lebih dari $ 2 per barel pada sesi perdagangan hari Kamis seiring para investor yang memandang keputusan OPEC+ sebagai sebuah penegasan pemulihan yang didorong oleh permintaan serta optimisme pasar yang timbul karena rencana pengeluaran infrastruktur senilai $ 2 triliun dari Presiden AS Joe Biden.

Organisasi OPEC+ telah setuju untuk mengurangi pembatasan produksi hingga sebesar 350 ribu barrel per hari di bulan Mei dan sebanyak 350 ribu barrel lagi pada bulan Juni serta untuk selanjutnya akan mengurangi hingga 400 ribu barrel per hari atau lebih pada bulan Juli mendatang.

Keputusan ini diambil oleh OPEC+ setelah pemerintah AS meminta pihak Arab Saudi untuk menjaga harga energi tetap terjangkau bagi para negara konsumen, meskipun tersisa kekhawatiran terhadap laju permintaan menyusul sejumlah kawasan di Eropa tetap memberlakukan kebijakan lockdown, di tengah kemungkinan Jepang dapat memperluas tindakan darurat sesuai kebutuhan guna menahan gelombang baru infeksi virus corona.

Mayoritas peningkatan pasokan minyak akan datang dari Arab Saudi sebagai negara eksportir minyak utama dunia, yang mengatakan bahwa pihaknya akan menghentikan kebijakan pemangkasan produksi secara bertahap di bulan Juli mendatang, yang merupakan sebuah langkah untuk menuju penambahan produksi hingga 1 juta barrel per hari.

Salah seorang ekonom di OCBC, Howie Lee mengatakan bahwa output produksi yang meningkat telah diikuti oleh peningkatan harga jual resmi, yang mana beliau menilai bahwa hal ini menunjukkan keyakinan blok terhadap kebijakan pemulihan laju permintaan.

Para investor di pekan ini akan terfokus pada pembicaraan informal di Wina Austria, antara Iran dengan AS sebagai bagian dari negosiasi secara lebih luas guna menghidupkan kembali kesepakatan nuklir yang ditandatangani di 2015 lalu antara pihak Teheran dan sejumlah negara sekutu Barat, namun pihak Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa mereka ingin pihak AS mencabut semua sanksi dan menolak pelonggaran secara bertahap dalam hal apapun yang tercantum di perjanjian sebelumnya.

Henry Rome selaku analis di Eurasia mengatakan bahwa dirinya mengharapkan sanksi AS, termasuk pembatasan penjualan minyak Iran, akan dicabut setelah pembicaraan antara kedua belah pihak mampu diselesaikan dan sampai pihak Iran mampu mematuhi segala aturan yang ditetapkan.

Lebih lanjut Rome menyampaikan bahwa langkah diplomasi dapat berlangsung selama berbulan-bulan dan kepatuhan terhadap kebijakan nuklir bisa memakan waktu hingga tiga bulan kedepan, serta implementasi dari kesepakatan semacam itu serta peningiatan ekspor minyak dapat berlangsung hingga awal tahun 2022 mendatang.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas