Harga Minyak Stabil Namun Sedikit Terhambat

Harga Minyak Stabil Namun Sedikit Terhambat

Meskipun bergerak stabil di sesi perdagangan hari ini setelah mencatat penurunan di sesi sebelumnya, namun pemulihan harga minyak nampaknya sedikit mengalami hambatan dari kekhawatiran lambatnya pemulihan permintaan akibat pandemi yang berlangsung di Eropa serta meningkatnya stok persediaan minyak mentah AS.

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent Crude Oil mencatat kenaikan sekitar 8 sen atau 0.1%, setelah sebelumnya jatuh hingga 5.9% dan mencapai titik terendahnya, sedangkan minyak berjangka AS jenis West Texas Intermediate hingga memasuki sesi perdagangan Eropa siang ini tercatat juga mengalami kenaikan sekitar 8 sen atau 0.1% pasca anjlok hingga 6.2% di sesi perdagangan hari Selasa kemarin.

Kedua harga patokan minyak mentah dunia tersebut telah menyentuh level terendahnya sejak awal bulan Februari lalu dan saat ini telah mencatat penurunan hamoir 15% dari level tertingginya baru-baru ini yang tercatat pada sesi perdagangan awal bulan Maret.

Selisih harga untuk kontrak bulan depan bagi minyak jenis Brent dan WTI telah jatuh dalam kondisi contango, dimana kontrak harga untuk bulan April berada dalam kisaran yang lebih rendah dibandingkan bulan-bulan berikutnya, sehingga ini menjadi tanda bahwa laju permintaan untuk minyak mentah akan segera mengalami penurunan.

Kazuhiko Saito selaku kepala analis di pialang komoditas Fujitomi Co mengatakan bahwa investor saat ini tengah menyesuaikan posisi mereka dari aksi jual secara tajam di hari Selasa kemarin, namun sentimen pasar nampaknya masih tetap bearish akibat dari meningkatnya kekhawatiran terhadap laju pemulihan permintaan bahan bakar setelah diberlakukannya kebijakan pembatasan baru di Eropa.

Seperti diketahui sebelumnya bahwa Jerman sebagai negara konsumen minyak terbesar di Eropa, telah memperpanjang kebijakan lockdown mereka hingga 18 April mendatang, dan Kanselir Angela Merkel telah mendesak warganya untuk tetap tinggal di rumah selama lima hari saat liburan Paskah.

Selain itu kekhawatiran terhadap laju kecepatan pemulihan dari pandemi Covid-19 telah meningkat setelah badan kesehatan AS mengatakan bahwa vaksin AstraZeneca Plc yang dikembangkan bersama dengan Universitas Oxford, kemungkinan telah memasukkan informasi yang telah kedaluwarsa dalam data-datanya.

Sementara itu faktor lainnya yang menambah tekanan terhadap harga minyak datang dari laporan mengenai lonjakan stok minyak AS hingga 2.9 juta barrel dalam sepekan terakhir hingga 19 Maret lalu, yang mana hasil ini bertentangan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan stok minyak hingga sekitar 300 ribu barrel, yang dikutip dari data kelompok industri American Petroleum Institute.

Kekhawatiran pasar komoditi minyak mentah juga diperparah dengan sanksi terkait HAM terhadap China yang diberlakukan oleh AS, Eropa dan Inggris, yang mendorong terjadinya sanksi balasan dari pihak Beijing sehingga semakin membuyarkan harapan pemulihan global di pasar.

Kepala strategi pasar global di Axi, Stephen Innes dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa pelemahan harga minyak di pekan ini nampaknya telah memvalidasi pandangan hati-hati yang disuarakan oleh pihak Arab Saudi pada pertemuan OPEC terakhir dan sekaligus meningkatkan kemungkinan terjadinya rollover dari tingkat produksi saat ini pada pertemuan OPEC di pekan depan.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas