Harga Minyak Dihantam Gelombang Pandemi

Harga Minyak Dihantam Gelombang Pandemi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Seiring gelombang epidemi virus corona yang dahsyat di India sehingga menghambat laju pemulihan permintaan minyak di negara konsumen minyak ketiga terbesar dunia tersebut, telah menimbulkan tekanan turun bagi harga minyak di sesi perdagangan hari ini, sekaligus mengimbangi optimisme terkait rebound yang kuat dalam permintaan di negara maju dan China di paruh kedua tahun ini.

Harga minyak mentah jenis Brent Crude untuk kontrak Juli turun hingga 15 sen atau sekitar 0.2%, sementara minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate untuk kontrak bulan Juni, mencatat penurunan sekitar 0.2% atau sebesar 10 sen hingga menjelang siang hari ini.

Sebuah data awal menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan setingkat negara bagian, yang bertujuan untuk membendung infeksi di India telah menyebabkan laju penjualan bahan bakar di negara tersebut mengalami penurunan selama bulan April lalu.

Kepala pemasaran di refiner Bharat Petroleum Corp A.K Singh, mengatakan bahwa secara keseluruhan laju permintaan bahan bakar mengalami penurunan hingga sekitar 7% dari level sebelum terjadinya pandemi Covid pada bulan April 2019 lalu, namun beliau menambahkan bahwa permintaan India di bulan Maret lalu, telah mendekati level sebelum terjadinya pandemi.

Diperkirakan bahwa permintaan bahan bakar transportasi di India, mencatat penurunan tajam di bulan Mei karena lebih banyaknya kebijakan pembatasan, seperti dalam catatan analis ING yang menyebutkan bahwa mengingat bahwa nampaknya infeksi Covid-19 di India belum mencapai puncaknya, maka pihaknya memperkirakan adanya penurunan lebih lanjut di permintaan bahan bakar selama bulan ini.

Pada akhir pekan kemarin, sebuah badan industri terkemuka di India telah mendesak pihak berwenang untuk membatasi aktifitas ekonomi, menyusul sistem perawatan kesehatan yang telah kewalahan oleh infeksi virus corona yang semain menyebar.

Meski demikian peluncuran kampanye vaksinasi secara global diperkirakan akan mampu mengangkat permintaan terhadap komoditas minyak, terutama selama puncak musim perjalanan di kuartal ketiga mendatang, sehingga mendorong para analis dalam jajak pendapat Reuters untuk meningkatkan perkiraan mereka terhadap harga minyak mentah jenis Brent untuk bulan kelima berturut-turut.

Sementara itu dari sisi pasokan minyak diberitakan bahwa OPEC telah memompa sekitar 25.17 juta barrel per hari di bulan April lalu, bertambah sebanyak 100 ribu dari bulan Maret, seiring pihak Iran dan produsen lainnya yang meningkatkan produksi mereka, sehingga hal ini mencatat produksi OPEC yang terus meningkat setiap bulannya sejak Juni 2020, kecuali di bulan Februari tahun ini.

Diberitakan bahwa Iran dan AS tengah dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir antara kedua negara, yang berpotensi mengarah pada pencabutan sanksi AS sehingga memungkinkan Iran untuk meningkatkan ekspor minyak mereka.

Pihak Washington pada hari Minggu kemarin telah membantah laporan yang dirilis oleh stasiun televisi Iran bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan pertukaran tahanan dengan imbalan pembebasan senilai $ 7 milliar dari pendapatan minyak Iran yang dibekukan akibat sanksi AS.

Sedangkan pihak Baker Hughes di AS melaporkan bahwa perusahaan energi di AS telah menambah aktifitas rig minyak dan gas alam di pekan lalu, yang menyebabkan kenaikan jumlah rig yang beroperasi dalam sembilan bulan berturut-turut, akibat laju pemulihan harga yang menarik sejumlah perusahaan pengeboran kembali beroperasi.

Akan tetapi hal ini tidak mampu menambahkan produksi minyak mentah AS, yang dilaporkan mengalami penurunan lebih dari satu juta barrel per hari di bulan Februari hingga menyentuh level terendahnya sejak Oktober 2017 lalu.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas