Greenback Menguat Menjelang Testimoni Powell

Greenback Menguat Menjelang Testimoni Powell
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Greenback menunjukkan kinerja yang solid di sesi perdagangan waktu Asia pagi tadi, dan bergerak di dekat level tertingginya seiring para investor yang tengah mengukur seberapa jauh para pembuat kebijakan Federal Reserve akan mampu mempengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Indeks Dollar mencatat kenaikan tipis terhadap mata uang utama lainnya, sementara pasangan mata uang AUDUSD mencatat penurunan hingga 0.44%, dan NZDUSD juga turun hingga 0.98% setelah pemerintah Selandia Baru memperkenalkan langkah-langkah untuk mengendalikan lonjakan harga properti, yang meredam spekulasi sebelumnya mengenai Reserve Bank of Newe Zealand yang akan menaikkan suku bunganya.

Sejauh ini indeks Dollar telah mencatat kenaikan hingga 2%, yang didukung oleh peluncuran vaksin Covid-19 di AS dan ditandatanganinya paket stimulus senilai $ 1.9 triliun untuk menjadi undang-undang pada awal bulan ini, sehingga harapan pemulihan ekonomi memberikan dukungan bagi kenaikan imbal hasil obligasi AS yang sekaligus meningkatkan minat beli investor terhadap Greenback.

Selain itu daya tarik Dollar didukung pula oleh sikap Federal Reserve yang bertoleransi terhadap kenaikan imbal hasil obligasi AS, seperti yang disampaikan oleh analis mata uang MUFG Bank, Minori Uchida kepada Reuters bahwa imbal hasil obligasi AS bisa mencatat kenaikan lebih lanjut seiring pasar yang mencoba mencari tahu ambang batas bagi The Fed.

Saat ini fokus perhatian para investor akan tertuju pada kesaksian Ketua Federal Reserve Jerome Powell dan Menteri Keuangan Janet Yellen di depan anggota komite jasa keuangan Kongres AS.

Yukio Ishizuki selaku ahli strategi senior di Daiwa Securities, mengatakan kepada Reuters bahwa pasar tertarik kepada seberapa jauh imbal hasil obligasi AS akan mengalami kenaikan, sementara itu para pejabat tinggi The Fed menyampaikan bahwa mereka akan tetap mempertahankan suku bunga di kisaran rendahnya hingga 2023 mendatang, meskipun ada kemungkinan pendapat yang lainnya.

Akan tetapi saat ini tingkat kepercayaan para investor terhadap kinerja mata uang di pasar negara berkembang sedikit terusik oleh pemecatan gubernur bank sentral Turki oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan, yang dianggap tidak mengandung minat risiko secara lebih luas.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas