Ekonomi Inggris Tumbuh Di Tengah Lockdown Easing

Ekonomi Inggris Tumbuh Di Tengah Lockdown Easing

Pihak perusahaan di Inggris untuk menghadapi rencana pelonggaran kebijakan lockdown ketiga oleh pemerintah Inggris guna meredam penyebaran virus corona, hal ini menjadi faktor utama bagi laju pertumbuhan ekonomi Inggris hingga 0.4% di bulan Februari lalu dari bulan sebelumnya.

Namun demikian angka ini masih lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan 0.6% dari para ekonom dalam jajak pendapat Reuters, akan tetapi data tersebut juga menunjukkan bahwa laju penurunan produk domestik bruto di bulan Januari sepertinya tidak separah perkiraan sebelumnya, dengan mencatat penurunan 2.2% dari pembacaan awal di 2.9%.

Sepanjang tahun lalu pertumbuhan ekonomi di Inggris mengalami penyusutan hingga hampir 10% akibat dampak dari pandemi Covid-19, yang tercatat sebagai penurunan terbesar dalam lebih dari tiga abad serta menjadi penurunan yang paling parah jika dibandingkan dengan sebagian besar negara ekonomi Eropa.

Data pertumbuhan ekonomi di tingkat bulanan yang diluncurkan di siang hari ini, menunjukkan bahwa laju PDB tetap di kisaran 7.8% di bawah levelnya yang dicapai setahun sebelumnya, dan berada sekitar 3.1% lebih rendah dari levelnya di bulan Oktober lalu, sebelum diberlakukannya dua kebijakan lockdown terbaru yang menghantam sektor jasa di Inggris.

Namun demikian dengan diluncurkannya vaksin Covid-19 secara lebih cepat, telah meningkatkan prospek pemulihan kembali di tahun ini dan tahun 20222 mendatang, yang mana toko-toko non-esensial serta aktifitas outdoor dari sektor perhotelan telah dibuka kembali di hari Senin kemarin, dimana Perdana Menteri Boris Johnson berharap untuk segera melonggarkan sebagian besar dari kebijakan pembatasan pandemi virus corona sebelum akhir bulan Juni mendatang.

Terkait akan hal ini salah seorang ekonom di UBS Global Wealth Management, Dean Turner mengatakan bahwa sementara Inggris masih berada di jalur konstraksi secara moderat dalam pencapaian PDB di kuartal pertama, namun para investor lebih melihat adanya potensi rebound yang akan dialami oleh pertumbuhan ekonomi saat ini, dibandingkan harus memikirkan angka negatif di periode triwulan ini.

Pertumbuhan di bulan Februari ini dibantu oleh kenaikan output pabrik untuk pertama kalinya sejak November lalu, yang dipimpin oleh manufaktur di bidang otomotif setelah mengalami kontraksi selama dua bulan sebelumnya, di saat sektor industri tengah berjuang dengan kurangnya pasokan microchip global.

Saat ini para pedagang grosir dan pengecer telah melihat terjadinya peningkatan penjualan yang membantu sektor jasa untuk tumbuh sebesar 0.2%, menyusul adanya tanda-tanda bahwa perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa telah pulih sebagian di bulan Februari lalu, setelah mengalami pukulan di bulan Januari, yang menjadi awal hubungan perdagangan baru pasca Brexit.

Laju ekspor barang Inggris ke Uni Eropa, tidak termasuk emas non-moneter dan logam mulia, tercatat sekitar 41.4% di bawah level tahun lalu pada bulan Januari, namun telah pulih sebagian menjadi 12.5% di bahwa level tahun lalu pada Februari, sedangkan untuk impor yang mengalami penurunan 19.2% dari level tahun lalu pada awal tahun ini, pada bulan Februari lalu berada sekitar 11.5% di bawah level tahun sebelumnya.

Volume perdagangan antara pihak Inggris dan Uni Eropa tercatat naik di akhir 2020 lalu, seiring sektor bisnis yang menimbun barang guna mengantisipasi penundaan kebijakan perbatasan di 2021 ini.

Office National for Statistic mengatakan bahwa terlepas dari bukti pemulihan secara parsial penurunan substansial di bulan Januari lalu terhadap sejumlah komoditas, namun masih terlalu dini untuk menentukan sejauh mana perubahan dalam skala bulanan di perdagangan untuk periode Januari dan Februari dapat secara langsung dikaitkan dengan akhir periode transisi Brexit.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas